Latest Entries »

AMDAL


AMDAL2


Saat bulan Ramadan tiba, seluruh umat Muslim di dunia diwajibkan menunaikan ibadah puasa. Tak hanya untuk mendapatkan pahala, berpuasa juga banyak memberikan manfaat kesehatan. Sayangnya, ada beberapa kebiasaan orang Indonesia yang dinilai tidak sehat dan justru membuat puasa terasa semakin berat.

Jika dilakukan dengan benar, puasa memberikan banyak manfaat untuk kesehatan, antara lain detoksifikasi (membersihkan tubuh), memicu proses penyembuhan dan penurunan berat badan.

Namun beberapa kebiasaan berikut dapat membuat ibadah puasa terasa berat dan juga tak sehat untuk tubuh, seperti dirangkum detikHealth, Senin (23/7/2012):

1. Banyak makan manis saat sahur
“Sebaiknya menghindari makanan yang cepat meningkatkan rasa lapar seperti terlalu manis,” jelas DR. Dr. Saptawati Bardosono, MSc dari Departemen Ilmu Gizi FKUI kepada detikHealth.

Menurut Dr Tati, makanan yang terlalu manis dan karbohidrat sederhana akan meningkatkan gula darah secara cepat namun kemudian akan menurunkannya secara drastis, yang akhirnya akan menyebabkan tubuh kekurangan zat gula sebagai zat tenaga sehingga tubuh cepat lemas, cepat lapar dan mengantuk.

2. Langsung tidur sehabis sahur
“Setelah makan, makanan akan disimpan di dalam lambung. Nah, ketika Anda langsung tidur sehabis sahur, maka makanan itu akan berbalik arah lagi ke atas. Setidaknya beri jedah 1-2 jam,” ujar Dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, dari FKUI-RSCM.

Kondisi ini disebut refluks esofagus. Bila ini terjadi, makanan yang baru saja mencapai lambung akan berbalik arah ke kerongkongan dan membawa asam lambung. Akibatnya, kerongkongan akan terasa kering, panas, membuat mual, mulas dan ingin muntah. Ini akan semakin parah pada penderita maag.

3. Buka puasa pakai gorengan
Gorengan membawa efek yang tidak baik untuk saluran tenggorokan dan pencernaan, terutama bagi orang yang seharian mengosongkan perut. Makanan yang tinggi lemak seperti gorengan akan membuat orang rentan terserang batuk dan memperlambat pengosongan lambung.

Hal ini tidak baik untuk orang yang baru berbuka puasa. Karena setelah 14 jam lambung kosong, tubuh butuh nutrisi yang cukup, tapi dengan adanya lemak tubuh akan merasa sudah kenyang dan akhirnya penyerapan nutrisi pun terhambat.

4. ‘Balas dendam’ saat buka puasa bikin kolesterol naik
“Puasa sebenarnya bagus sekali untuk kesehatan tubuh, sepanjang orang mau membatasi pola makannya. Dan tidak ada itu kata balas dendam,” ujar dr Arieska Ann Soenarta, Sp.JP (K), spesialis penyakit jantung dan pembuluh darah RS Harapan Kita.

Menurut dr Ann, banyak sekali kecenderungan orang makan tidak terkontrol pada bulan puasa, terutama pada saat buka puasa. Hal ini dapat diamati dengan penuhnya restoran-restoran mahal yang menyajikan berbagai makanan termasuk makanan berkolesterol tinggi, di saat buka puasa.

5. Puasa malah makin gemuk karena makan berlebihan
“Pada prinsipnya, orang menjadi gemuk karena makanan yang dikonsumsi lebih banyak dari makanan yang diolah menjadi tenaga. Hal ini banyak terjadi di bulan puasa,” ungkap Dr Samuel Oetoro, SpG.K., ahli gizi klinik FKUI-RSCM.

Biasanya orang yang berpuasa akan makan berlebihan ketika sahur karena takut lemas atau makan balas dendam saat buka. Sedangkan di pagi dan siang harinya, aktivitas fisik yang dilakukan berkurang, banyak tidur dan jarang sekali bergerak. Alhasil, lemak menumpuk dan akhirnya berat badan meningkat.


Gastritis atau lebih lazim kita menyebutnya sebagai penyakit maag merupakan penyakit yang sangat mengganggu aktivitas dan bila tidak ditangani dengan baik dapat juga berakibat fatal.Penyakit ini selain dapat mengganggu aktivitas juga akan memberikan pengaruh pada makanan – makanan yang harus dikonsumsi maupun tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi.

Biasanya penyakit maag terjadi pada orang-orang yang mempunyai pola makan tidak teratur, suka makanan yang asam, merangsang produksi asam lambung, atau makanan/obat-obatan yang bisa mengiritasi lambung. Beberapa infeksi mikroorganisme juga dapat menyebabkan terjadinya maag. Gejala sakit maag selain nyeri di daerah ulu hati adalah mual, muntah, lemas, kembung dan terasa sesak, nafsu makan menurun, wajah pucat, suhu badan naik, keluar keringat dingin, pusing, atau selalu bersendawa. Dan pada kondisi yang lebih parah, bisa muntah darah.

Penyebab asam lambung tinggi, Antara lain :

Aktivitas padat sehingga telat makan
Stress yang tinggi, yang berimbas pada produksi asam lambung berlebih
Makanan dan minuman yang memicu tingginya sekresi asam lambung, seperti makanan dan minuman dengan rasa asam, pedas, kecut, berkafein tinggi, mengandung vitamin C dosis tinggi, termasuk buah-buahan.

Tapi penyakit maag bukan semata-mata soal asam lambung tinggi dan buffer bermasalah. Ada beberapa faktor lain yang membuat buffer melemah antara lain disebabkan oleh bakteri Helicobacter Pylori (HP), infeksi kuman (e-colli, salmonella atau virus), pengaruh obat-obatan, dan konsumsi alkohol berlebih.

Pantangan bagi penderita sakit maag

  • Hindari makanan yang banyak mengandung gas (seperti lemak, sawi, kol, nangka, pisang ambon, kedondong, buah yg dikeringkan dan minuman bersoda)
  • Hindari makanan yg merangsang keluarnya asam lambung (seperti kopi, minuman beralkohol 5-20%, anggur putih dan sari buah sitrus)
  • Hindari makanan yg sulit dicerna yg membuat lambung lambat kosong misal makanan berlemak, kue tart, keju
  • Hindari makanan yg merusak dinding lambung seperti cuka, pedas, merica dan bumbu yg merangsang
  • Hindari makanan yang melemahkan klep kerongkongan bawah seperti alkohol, coklat, makanan tinggi lemak dan gorengan.
  • Hindari beberapa sumber karbohidrat seperti beras ketan, mie, bihun,serta dodol.

METODOLOGI PENELITIAN BIOLOGI
(MASALAH PENELITIAN)

Disusun Oleh:
Ani Rohayati ( 0801145006 )
Aries Tia Dewi ( 0801145068 )
Miatun Natasya ( 0801145046 )

FAKULTAS: FKIP
PRODI: BIOLOGI 6B

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR.HAMKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN BIOLOGI
2011
BAB I
PENDAHULUAN

Penelitian bagi mahasiswa merupakan salah satu keterampilan yang harus dimiliki sebagai salah satu prasyarat bagi peningkatan kualitas pendidikannya. Selama mengikuti kegiatan pendidikan, mahasiswa dituntut terampil menghasilkan karya tulis berupa makalah, laporan buku, tesis atau disertasi. Semua karya ilmiah tersebut berdasarkan hasil penelitian.
Karya ilmiah merupakan penyampaian informasi faktual terhadap suatu masalah yang disusun secara tertulis menurut ketentuan yang berlaku di dalam suatu lembaga. Dalam penulisan suatu karya ilmiah terdapat permasalahan-permasalahan yang akan dibahas diawali dengan sesuatu persoalan.
Dalam segala lapangan kita dapat menemukan permasalahan ilmiah yang harus diatasi. Tidak jarang suatu penelitian membuka jalan lain yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Perkembangan peradaban manusia serta perubahan ilmu pengetahuan menjadi samudera yang penuh dengan masalah. Akan tetapi, tidak semua orang dapat melihat dan menyadari adanya masalah. Kebanyakan peneliti berpendapat bahwa menentukan masalah adalah langkah yang paling pelik dari seluruh proses penelitian. Sebab utama dari kekurangan ini terletak pada rendahnya penguasaan lapangan.
Masalah adalah setiap kesulitan yang menggerakkan manusia untuk memecahkannya. Masalah harus diangap sebagai tantangan yang harus diatasi. Oleh karena itu, masalah yang benar-benar dapat ditangani melalui penelitian adalah yang penting dan dapat menghasilkan penyelesaian yang bermanfaat. Dalam makalah ini akan dibahas beberapa masalah dalam penelitian, khususnya adalah penulisan masalah dalam penelitian pada sebuah karya ilmiah.

BAB II
PEMBAHASAN

Pemilihan dan perumusan masalah adalah salah satu aspek yang paling penting dalam pelaksanaan penelitian bidang apa saja. Penelitian tidak dapat dilakukan sebelum suatu masalah diidentifikasi, dipikirkan secara tuntas, dan dirumuskan dengan baik.
Seorang peneliti mula-mula harus menentukan pokok persoalan penyelidikan yang bersifat umum, kemudian pokok persoalan tersebut dipersempit sampai menjadi persoalan yang sangat khusus. Peneliti harus menentukan pertanyaan yang harus dijawab dan harus menyatakan dengan tepat apa yang dilakukan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan itu.
Dalam menentukan masalah penelitian, setelah suatu masalah dipilih dan pertanyaan dapat dirumuskan dengan jelas, maka selesailah salah satu tahap yang paling sulit dalam proses penelitian.
2.1 Pengertian
2.1.1Penelitian
Penelitian dapat diartikan sebagai cara pengamatan atau inkuiri dan mempunyai tujuan untuk mencari jawaban permasalahan atau proses penemuan, baik discovery maupun invention. Discovery diartikan sebagai hasil penemuan yang sebetulnya memang sudah ada. Invention dapat diartikan sebagai penemuan hasil penelitian yang betul-betul baru dengan dukungan fakta.
1. David H Penny
Penelitian adalah pemikiran yang sistematis mengenai berbagai jenis masalah yang pemecahannya memerlukan pengumpulan dan penafsiran fakta-fakta.
2. Mohammad Ali
Penelitian adalah suatu cara untuk memahami sesuatu melalui penyelidikan atau usaha mencari bukti-bukti yang muncul sehubungan dengan masalah itu, yang dilakukan secara hati-hati sekali sehingga diperoleh pemecahannya.
Penelitian menurut kelompok kami adalah suatu usaha penyelidikan untuk memperoleh informasi yang benar secara sistematis.

2.1.2 Masalah
Masalah adalah setiap kesulitan yang menggerakkan manusia untuk memecahkannya. John Dewey dan Kerlinger memberikan pengertian tentang permasalahan penelitian, diantaranya :
a. Dapat berupa kesenjangan (discrepancy) antara sesuatu yang diharapkan dan kenyataan yang ada.
b. Secara faktual dapat berupa kesulitan yang dirasakan oleh orang awam maupun para peneliti.
c. Sesuatu yang dijadikan target yang telah ditetapkan peneliti, tetapi target tersebut tidak tercapai.
Masalah adalah suatu kendala atau persoalan yang harus dipecahkan dengan kata lain masalah merupakan kesenjangan antara kenyataan dengan suatu yang diharapkan dengan baik, agar tercapai tujuan dengan hasil yang maksimal.
Masalah menurut kelompok kami adalah suatu persoalan yang berbeda dari kenyataan yang diharapkan.

2.2 Kriteria dalam Menetapkan Masalah
Setelah masalah yang akan diteliti itu ditentukan (variabel apa saja yang akan diteliti, dan bagaimana hubungan variabel satu dengan yang lain), dan supaya masalah dapat terjawab secara akurat, maka masalah yang akan diteliti itu perlu dirumuskan secara spesifik. Perumusan masalah merupakan pemetaan faktor-faktor dan variabel-variabel yang terkait. Kualitas suatu penelitian tidak cukup dipertimbangkan berdasarkan kriteria-kriteria sebagaimana diuraikan sebelumnya. Kualitas suatu penelitian juga ditentukan oleh bagaimana masalah penelitian tersebut dirumuskan.
Untuk penetapan masalah dalam penyelidikan diperlukan beberapa faktor pertimbangan, yaitu faktor luar peneliti dari faktor dalam peneliti di antaranya sebagai berikut:
a. Apakah masalah ini berguna untuk dipecahkan?
Peneliti menyelidiki terlebih dahulu apakah pemecahan masalah tersebut akan membawa sesuatu yang berguna, berarti, dan penting. Ada dua manfaat yang perlu diperhatikan dalam mengidentifikasi masalah, yaitu manfaat teoretis dan manfaat praktis. Manfaat teoretis berkait erat dengan pengembangan ilmu pengetahuan, sedang manfaat praktis adalah manfaat yang lansung dapat digunakan atau dirasakan praktisi atau masyarakat, seperti guru, siswa, kepala sekolah, serta para pengelola.
b. Apakah masalah dapat diteliti?
Permasalahan dapat dikatakan dapat diteliti atau researchable apabila masalah tersebut dapat diungkap kejelasannya melalui tindakan pengumpulan data dan dianalisis.
c. Apakah terdapat kemampuan yang dipunyai peneliti untuk pemecahan masalah ini?
Untuk menyelesaikan masalah diperlukan cara-cara penyelidikan yang khusus. Peneliti perlu bertanya pada diri sendiri cara-cara yang bagaimanakah yang sebaiknya digunakan untuk pemecahan masalah tertentu.
d. Apakah masalah itu sendiri menarik untuk dipecahkan?
Masalah yang beranekaragam beraneka pula tingkat kesulitannya. Peneliti harus menemukan motif yang cukup kuat yang menyebabkan peneliti tertarik pada masalah tersebut.
e. Apakah masalah ini memberikan sesuatu yang baru?
Diperlukan pengetahuan yang luas untuk dapat mengetahui apakah dengan penemuan masalah itu berarti pula ditemukannya sesuatu yang baru bagi dunia pengetahuan.
f. Apakah masalah itu terbatas hingga jelas?
Masalah yang ditentukan haruslah khas (spesifik) dan sedemikian rupa seperti yang kuasakan oleh ilmu yang ada.

2.2.1 Masalah yang Baik untuk Diteliti
Masalah yang baik untuk diteliti adalah sebagai berikut :
1. Masalah yang tepat diteliti yaitu masalah yang dihadapkan pada suatu kebutuhan atau tantangan bagi peneliti.
2. Masalah mudah dirumuskan sehingga menjadi jelas batasannya, kedudukan dan alternatif cara pemecahannya.
3. Memiliki hipotesis yang jelas sebagai titik tolak dalam penelitian dan alternatif pemecahannya.
4. Mudah dalam pengumpulan data untuk menguji hipotesis.
5. Mudah dalam menarik kesimpulan berdasarkan hasil pengolahan data dan dikembalikan pada jawaban hipotesis yang sudah dirumuskan.Dapat memecahkan masalah yang diteliti sehingga dapat menemukan kebenaran serta implikasinya untuk memberi saran-saran agar masa depan lebih baik.
2.2.2 Ciri-ciri Pernyataan Masalah Penelitian yang baik:
1. Masalah yang dipilih harus mempunya nilai penelitian
a. Masalah harus mempunyai keaslian.
b. Masalah harus menyatakan suatu hubungan.
c. Masalah harus merupakan hal yang penting.
d. Masalah harus dapat di uji.
e. Masalah harus mencerminkan suatu pertanyaan.
2. Masalah yang dipilih dengan bijak, artinya :
a. Data serta metode untuk memecahkan masalah harus tersedia.
b. Biaya untuk memecahkan masalah, secara relatif harus dalam batas-batas kemampuan.
c. Waktu memecahkan masalah harus wajar.
d. Biaya dan hasil harus seimbang.
e. Administrasi dan sponsor harus kuat.
f. Tidak bertentangan dengan hukum dan adat.
3. Masalah dipilih dengan kualifikasi peneliti
a. Menarik bagi peneliti
b. Masalah harus sesuai dengan kualifikasi peneliti
2.3 Sumber Masalah Penelitian
Beberapa sumber masalah penelitian dapat dijadikan sebagai bahan untuk memperoleh ide atau penentuan masalah penelitian. Beberapa sumber masalah tersebut diantaranya adalah :
a. Bacaan
Bacaan yang dapat dijadikan sumber masalah adalah buku. Buku yang memuat generalisasi dari teori-teori. Teori ini menjadi sumber masalah yang akan membuktikan kebenarannya melalui penelitian secara empiris.
b. Pertemuan Ilmiah
Masalah yang dapat diperoleh melalui pertemuan ilmiah misalnya diskusi, seminar, lokakarya, dan konferensi. Dari pertemuan ilmiah tersebut dapat muncul berbagai ide penelitian dan masalah aktual, yang memerlukan pemecahan melalui penelitian.
c. Laporan Hasil Penelitian
Banyak institusi yang memiliki lembaga penelitian atau perpustakaan sebagai sumber informasi dari penelitian yang telah dilakukan oleh institusi tersebut. Disamping itu jurnal-jurnal penelitian merupakan laporan hasil-hasil penelitian yang mutakhir yang dapat dijadikan sumber masalah penelitian. Melalui internet, informasi mengenai materi penelitian dalam jurnaal dapat dengan mudah didapat.
d. Pernyataan Pemegang Kekuasaan
Orang yang memiliki otoritas ilmu, yaitu yang memiliki kepakaran, komitmen, dan kekonsistenan atas suatu ilmu. Orang yang memiliki otoritas ini menjadi figur atau anutan orang-orang yang memiliki ilmu di bawahnya. Pemegang otoritas ini dapat bersifat formal, contohnya guru besar. Sedangkan yang bersifat nonformal yaitu tokoh masyarakat atau figur masyarakat.pernyataan para pemegang otoritas ini dapat dijadikan permasalahan dan dibuktikan kebenarannya melalui penelitian.
e. Pengamatan
Pengamatan yang dilakukan secara tidak direncanakan atau secara sepintas dapat melahirkan permasalahan yang sangat kaya. Seseorang dapat mengenal kondisi aktual di lapangan yang dapat dijadikan permasalahan penelitian yang berguna untuk diimplementasikan sesuai dengan keadaan terkini.
f. Pengalaman Individual atau Kelompok
Pengalaman seseorang atau sekelompok orang yang didapat sepanjang waktu tertentu dapat memunculkan permasalahan yang dapat diidentifikasi sebagai permasalahan penelitian. Seseorang akan mengenali suatu permasalahan dari aktivitas rutin dan intensif.
2.4 Merumuskan Masalah Penelitian
Rumuan masalah merupakan penuntun bagi langkah-langkah yang akan dilakukan peneliti dalam kegiatan penelitiannya. Masalah harus dirumuskan secara jelas sehingga peneliti menegetahui secara tepat variabel apa yang akan diukur dan apakah ada alat ukur yang sesuai untuk memecahkan masalah penelitian.
Beberapa syarat perumusan atau pertanyaan masalah penelitian diutarakan Jack R. Fraenkel dan Norman E. Wallen, yaitu harus feasiable, yaitu memungkinkan untuk diteliti, harus clear artinya rumusan masalah harus ditulis dalam kalimat yang jelas sederhana, dan maknanya dapat dimengerti oleh sebagian masyarakat, harus significant, maksudnya adalah penelitian harus memeberikan sumbangan yang berarti bagi pengetahuan, harus ethic, artinya permasalahan harus dapat dipecahkan tanpa merusak atau membahayakan manusia atau lingkungan alam.
Ada beberapa pendapat tentang bentuk rumusan permasalahan, pendapat Yatim Riyanto sebagai berikut :
a. Rumusan masalah hendaknya singkat dan bermakna. Masalah perlu dirumuskan dengan singkat dan padat, tidak berbelit-belit, dinyatakan dengan kalimat yang pendek tetapi jelas dan tidak bermakna ganda.
b. Rumusan masalah hendaknya dalam bentuk kalimat tanya. Masalah akan lebih tepat apabila dirumuskan dalam bentuk kalimat pertanyaan, bukan dengan pernyataan. Dengan kalimat tanya, peneliti dipandu untuk menemukan jawabannya melalui penelitian.
c. Rumusan masalah harus jelas dan konkrit. Ini akan memungkinkan peneliti secara eksplisit dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan: apa yang diselidiki, siapa, mengapa, bagaimana pelaksanaannya bagaimana melakukannya, dan apa tujuan yang diharapkan.
d. Masalah dirumuskan secara operasional. Memungkinkan peneliti memahami variabel dan subvariabel yang ada dalam penelitian dan bagaimana mengukurnya.
e. Rumusan masalah hendaknya mampu memberikan petunjuk tentang memungkinkannya pengumpulan data di lapangan untuk menjawab pertanyaan yang terkandung dalam penelitian tersebut.
f. Penulisan masalah harus dibatasi, sehingga memungkinkan penarikan kesimpulan yang tegas.
2.4.1 Cara Perumusan Masalah
1. Menguraikan masalah utama sesuai dengan latar belakang penelitian dan judul penelitian. Alangkah baiknya apabila peneliti mampu membuat definisi atau rumusan masalah.
2. Menyusun masalah yang akan diteliti yang dijadikan fokus atau pokok-pokok penelitian sesuai dengan urutan judul penelitian.
3. Setiap pokok penelitian erat hubungannya dengan variabel yang diteliti, serta kaitan antara variabel yang satu dengan variabel yang lainnya secara rasional dan proporsional.
4. Pokok-pokok yang akan diteliti diungkapkan berbentuk kalimat tanya.
5. Setiap pokok penelitian merupakan definisi operasional variabel.
6. Setiap variabel yang diteliti harus jelas menggambarkan objek yang diteliti.
7. Dari setiap indikator yang diteliti harus disesuaikan dengan jenis instrumen penelitian yang bisa mengungkap masalah yang dicari jawabannya.
8. Jawaban penelitian sesuai dengan jenis penelitian apakah penelitian kualitatif atau penelitian kuantitatif.

2.4.2 Fungsi Perumusan Masalah
Perumusan masalah memiliki fungsi sebagai berikut yaitu Fungsi pertama adalah sebagai pendorong suatu kegiatan penelitian menjadi diadakan atau dengan kata lain berfungsi sebagai penyebab kegiatan penelitian itu menjadi ada dan dapat dilakukan. Fungsi kedua, adalah sebagai pedoman, penentu arah atau fokus dari suatu penelitian. Perumusan masalah ini tidak berharga mati, akan tetapi dapat berkembang dan berubah setelah peneliti sampai di lapangan. Fungsi ketiga dari perumusan masalah, adalah sebagai penentu jenis data macam apa yang perlu dan harus dikumpulkan oleh peneliti, serta jenis data apa yang tidak perlu dan harus disisihkan oleh peneliti. Keputusan memilih data mana yang perlu dan data mana yang tidak perlu dapat dilakukan peneliti, karena melalui perumusan masalah peneliti menjadi tahu mengenai data yang bagaimana yang relevan dan data yang bagaimana yang tidak relevan bagi kegiatan penelitiannya. Sedangkan fungsi keempat dari suatu perumusan masalah adalah dengan adanya perumusan masalah penelitian, maka para peneliti menjadi dapat dipermudah di dalam menentukan siapa yang akan menjadi populasi dan sampel penelitian.

2.4.3 Penempatan Rumusan Masalah
Berkenaan dengan penempatan rumusan masalah penelitian, didapati beberapa variasi, antara lain (1) Ada yang menempatkannya di bagian paling awal dari suatu sistematika peneliti, (2) Ada yang menempatkan setelah latar belakang atau bersama-sama dengan latar belakang penelitian dan (3) Ada pula yang menempatkannya setelah tujuan penelitian.
Di manapun rumusan masalah penelitian ditempatkan, sebenarnya tidak terlalu penting dan tidak akan mengganggu kegiatan penelitian yang bersangkutan, karena yang penting adalah bagaimana kegiatan penelitian itu dilakukan dengan memperhatikan rumusan masalah sebagai pengarah dari kegiatan penelitiannya. Artinya, kegiatan penelitian yang dilakukan oleh siapapun, hendaknya memiliki sifat yang konsisten dengan judul dan perumusan masalah yang ada. Kesimpulan yang didapat dari suatu kegiatan penelitian, hendaknya kembali mengacu pada judul dan permasalahan penelitian yang telah dirumuskan.

BAB III
PENUTUP

Suatu masalah hendaknya merupakan masalah yang pemecahannya akan memberikan sumbangan kepada pembangunan pengetahuan di bidang pendidikan. Peneliti sebaiknya dapat menunjukkan bahwa studi tersebut dapat mengisi kekosongan dalam pengetahuan yang ada, atau membantu memecahkan sebagian ketiadak-mantapan yang terdapat dalam penelitian sebelumnya. Dan permasalahan itu hendaknya merupakan permasalahan yang akan membawa kita kepada permasalahan-permasalahan baru, dan dengan demikian juga kepada penelitian-penelitian berikutnya. Karena suatu penelitian yang baik adalah disamping memperoleh suatu jawaban suatu permasalahan, biasanya juga menyebabkan timbulnya sejumlah permasalahan lain yang memerlukan permasalahan.
Hal dalam menetapkan masalah suatu penyelidikan, diperlukan beberapa faktor pertimbangan, yaitu faktor luar peneliti dari faktor dalam peneliti di antaranya dalam kriteria penetapan masalah, yaitu suatu masalah dapat berguna untuk dipecahkan, suatu masalah dapat diteliti, terdapat kemampuan yang dipunyai peneliti untuk pemecahan suatu masalah, suatu masalah itu menarik untuk dipecahkan, suatu masalah dapat memberikan sesuatu yang baru, dan suatu masalah terbatas hingga jelas. Dan dalam kaitannya dengan kriteria ini, diharapkan para mahasiswa dapat mempelajari suatu penelitian yang dapat mempertimbangkan suatu masalah yang mugkin akan dapat diperluas atau dilanjutkan nantinya dalam studi berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Syamsuddin, A.R dan Vismaia, S. 2006. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
http://www.google.com/ Perumusan Masalah yang Baik. Diakses pada tanggal 26-03-2011.html.


BAB   I

PENDAHULUAN

 

A.      Latar Belakang

                   Ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memiliki syarat – syarat  yaitu : objektif, metodis, sistematis, dan universal. Dalam ilmu juga memiliki beberapa bidang keilmuan.

Pengetahuan adalah sebagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya.

Pengetahuan memiliki berbagai jenis, yaitu pengetahuan empiris dan pengetahuan rasionalisme. Selain itu, juga terdapat faktor – faktor pengetahuan yakni pendidikan, media dan informasi. Dipengetahuan terdapat dua aspek yang berbeda ialah hal – hal yang diperoleh dan realitas yang terus berubah.

                        Penelitian adalah usaha pemecahan masalah berdasarkan fakta-fakta atau prinsip-prinsip (menemukan, mengumpulkan, mengembangkan, menganalisis dan menguji kebenaran). Dikerjakan dengan hati-hati, sistematis dan berdasarkan ilmu pengetahuan dengan metode ilmiah. Pada penelitian juga terdapat metode ilmiah, aspek – aspek penelitian, dan jenis -jenis penelitian.

Unsur penting dalam penelitian adalah :

–       Observasi merupakan pengamatan/pengukuran terhadap fakta.

–       Nalar  memaknai fakta dan hubungan antar fakta.

 

BAB   II

PEMBAHASAN

 

 

A.     Ilmu

Ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.

Ilmu bukan sekedar pengetahuan, tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.

Contoh: Ilmu Alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi ke dalam hal yang bahani (materiil saja) atau ilmu psikologi hanya bisa meramalkan perilaku manusia jika membatasi lingkup pandangannya ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang kongkrit. Berkenaan dengan contoh ini, ilmu-ilmu alam menjawab pertanyaan tentang berapa jauhnya matahari dari bumi.

1.   Secara Etimologi

Kata ilmu dalam bahasa Arab “ilm” yang berarti memahami, mengerti, atau mengetahui. Dalam kaitan penyerapan katanya, ilmu pengetahuan dapat berarti memahami suatu pengetahuan, dan ilmu sosial dapat berarti mengetahui masalah-masalah sosial, dan lain sebagainya.

2.   Syarat-syarat ilmu

Berbeda dengan pengetahuan, ilmu merupakan pengetahuan khusus, mengetahui apa penyebab sesuatu dan mengapa. Sifat ilmiah sebagai persyaratan ilmu :

1.  Objektif, ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Objeknya dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan objek, dan karenanya disebut kebenaran objektif; bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian.

  1. Metodis adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensi dari upaya ini adalah harus terdapat cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari kata Yunani “Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.
  2. Sistematis, dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.
  3. Universal, kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180º. Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.

3.  Bidang-bidang keilmuan

a.    Ilmu alam

–       Fisika

–  Biologi

–  Kimia

b.  Ilmu bumi

– Geografi

Geologi

c.  Ilmu sosial

–  Antropologi

–  Ekonomi

–  Ilmu politik

–  Linguistik (Ilmu bahasa)

–  Psikologi

–  Sosiologi

–  Hukum

  1. Ilmu terapan

–   Ilmu Komputer

–   Informatika

  1. Ilmu rekayasa

–   Ilmu Biomedik

–   Ilmu pertanian

4.  Ilmu menurut para ahli:

Ashley Montagu menyebutkan bahwa ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang disusun dalam suatu system yang berasal dari pengamatan, studi dan pengalaman untuk menentukan hakikat dan prinsip hal yang sedang dipelajari.

Harold H. titus mendefinisikan “Ilmu diartikan sebagai sesuatu yang diatur dan diorganisasikan, mengadakan pendekatan terhadap benda-benda atau peristiwa-peristiwa dengan menggunakan metode-metode observasi yang teliti dan kritis).

Dr. Mohammad Hatta mendefinisikan “Tiap-tiap ilmu pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan kausal dalam satu golongan masalah yang sama tabiatnya, baik menurut kedudukannya tampak dari luar maupun menurut bangunannya dari dalam.”

Drs. H. Ali As’ad dalam buku Ta’limul Muta’allim menafsirkan ilmu sebagai : “Ilmu adalah suatu sifat yang kalau dimiliki oleh seorang maka menjadi jelaslah apa yang terlintas di dalam pengertiannya”.

5.  Ilmu menurut kelompok kami :

“Ilmu adalah suatu usaha manusia yang dilakukan untuk mencari tahu tentang keraguan yang harus dibuktikan kebenarannya.” Atau “ilmu adalah catatan manusia tentang alam semesta.”

B.      Pengetahuan

Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Pengetahuan termasuk, tetapi tidak dibatasi pada deskripsi, hipotesis, konsep, teori, prinsip dan prosedur yang benar atau berguna.

Dalam pengertian lain, pengetahuan adalah sebagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut.

1.  Macam – macampengetahuan

     a.       Pengetahuan empiris

Pengetahuan yang lebih menekankan pengamatan dan pengalaman inderawi dikenal sebagai pengetahuan empiris atau pengetahuan aposteriori. Pengetahuan ini bisa didapatkan dengan melakukan pengamatan yang dilakukan secara empiris dan rasional. Pengetahuan empiris tersebut juga dapat berkembang menjadi pengetahuan deskriptif bila seseorang dapat melukiskan dan menggambarkan segala ciri, sifat, dan gejala yang ada pada objek empiris tersebut.

Pengetahuan empiris juga bisa didapatkan melalui pengalaman pribadi manusia yang terjadi berulangkali. Misalnya, seseorang yang sering dipilih untuk memimpin organisasi dengan sendirinya akan mendapatkan pengetahuan tentang manajemen organisasi.

b.    Pengetahuan rasionalisme

Pengetahuan rasionalisme adalah pengetahuan yang diperoleh melalui akal budi. Rasionalisme lebih menekankan pengetahuan yang bersifat apriori; tidak menekankan pada pengalaman. Misalnya pengetahuan tentang matematika. Dalam matematika, hasil 1 + 1 = 2 bukan didapatkan melalui pengalaman atau pengamatan empiris, melainkan melalui sebuah pemikiran logis akal budi.

2.  Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan :

     a.    Pendidikan

Pendidikan adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dan juga usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, maka jelas dapat kita kerucutkan sebuah visi pendidikan yaitu mencerdaskan manusia.

b.    Media

Media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Jadi contoh dari media massa ini adalah televisi, radio, koran, dan majalah.

c.    Informasi

Pengertian informasi menurut Oxford English Dictionary, adalah “that of which one is apprised or told: intelligence, news”. Kamus lain menyatakan bahwa informasi adalah sesuatu yang dapat diketahui, namun ada pula yang menekankan informasi sebagai transfer pengetahuan. Sedangkan informasi sendiri mencakup data, teks, gambar, suara, kode, program komputer, basis data. Adanya perbedaan definisi informasi dikarenakan pada hakekatnya informasi tidak dapat diuraikan (intangible), sedangkan informasi itu dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, yang diperoleh dari data dan pengamatan terhadap dunia sekitar kita serta diteruskan melalui komunikasi.

3.  Pengetahuan menurut para ahli :

   Mohammad Adlany mengatakan “Pengetahuan adalah suatu keadaan yang hadir dikarenakan persentuhan kita dengan suatu perkara.” Keluasan dan kedalaman kehadiran kondisi-kondisi ini dalam pikiran dan jiwa kita sangat bergantung pada sejauh mana reaksi, pertemuan, persentuhan, dan hubungan kita dengan objek-objek eksternal. Walhasil, makrifat dan pengetahuan ialah suatu keyakinan yang kita miliki yang hadir dalam syarat-syarat tertentu dan terwujud karena terbentuknya hubungan-hubungan khusus antara subjek (yang mengetahui) dan objek (yang diketahui) dimana hubungan ini sama sekali kita tidak ragukan.

John Dewey menyamakan antara hakikat itu sendiri dan pengetahuan dan beranggapan bahwa pengetahuan itu merupakan hasil dan capaian dari suatu penelitian dan observasi. Menurutnya, pengetahuan seseorang terbentuk dari hubungan dan jalinan ia dengan realitas-realitas yang tetap dan yang senantiasa berubah.

4.  Dalam pengetahuan terdapat dua aspek yang berbeda, antara lain:

a. Hal-hal yang diperoleh. Pengetahuan seperti ini mencakup tradisi, keterampilan, informasi, dan akidah-akidah yang diyakini oleh seseorang dan diaplikasikan dalam semua kondisi dan dimensi penting kehidupan. Misalnya pengetahuan seseorang tentang sejarah negaranya dan pengetahuannya terhadap etika dan agama dimana pengetahuan-pengetahuan ini nantinya ia bisa aplikasikan dan menjadikannya sebagai dasar pembahasan.

b.  Realitas yang terus berubah. Sangat mungkin pengetahuan itu diasumsikan sebagai suatu realitas yang senantiasa berubah dimana perolehan itu tidak pernah berakhir. Pada kondisi ini, seseorang mengetahui secara khusus masalah yang beragam, kemudian ia membandingkan perkara tersebut satu sama lain dan memberikan pandangan atasnya, dengan demikian, ia menyiapkan dirinya untuk mendapatkan pengetahuan-pengetahuan baru yang lebih global.

5.  Pendapat mengenai pendefinisian pengetahuan, antara lain:

     a.  Pengetahuan itu tidak bisa didefinisikan, karena pengetahuan itu bersifat gamblang dan aksiomatik. Untuk menegaskan kegamblangan ilmu dan pengetahuan itu bisa berpijak pada beberapa hal:

–    Pengetahuan itu sendiri merupakan perkara-perkara kejiwaan dan kefitraan. Dan Setiap perkara kefitraan dan kejiwaan itu bersifat aksiomatik dan badihi.

–    Pengetahuan yang mutlak bersumber dari pengetahuan yang khusus dan terbatas seperti pengetahuan manusia pada wujudnya sendiri yang bersifat aksiomatik. Dan pengetahuan yang berasal dari hal-hal yang aksiomatik adalah juga bersifat aksiomatik dan gamblang.

–    Apabila pengetahuan itu bisa didefinisikan, maka akan berkonsekuensi pada kemustahilan pengetahuan manusia terhadap realitas bahwa “ia mengetahui sesuatu”, yakni pengetahuan manusia itu sendiri pertama-tama harus didefinisikan, barulah kemudian ia memahami bahwa dirinya memiliki pengetahuan terhadap sesuatu.

b.  Pengetahuan itu bisa didefinisikan, namun sangat sulit.

c.  Pengetahuan itu mudah didefinisikan. Sesungguhnya definisi hakiki pengetahuan adalah hal yang mustahil, karena pada hakikatnya pengetahuan itu identik dengan eksistensi dan wujud, dan eksistensi – sebagaimana diketahui dalam pembahasan ontologi – secara hakiki adalah mustahil untuk didefinisikan. Apabila pengetahuan itu bisa didefinisikan, maka sebenarnya bukanlah definisi yang hakiki.

6.  Pengetahuan menurut kelompok saya :

                      Pengetahuan adalah sesuatu yang diketahui manusia yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya tetapi bersumber pada keyakinan.

C.      Penelitian

                        Penelitian adalah usaha pemecahan masalah berdasarkan fakta-fakta atau prinsip-prinsip (menemukan, mengumpulkan, mengembangkan, menganalisis dan menguji kebenaran). Dikerjakan dengan hati-hati, sistematis dan berdasarkan ilmu pengetahuan dengan metode ilmiah.

Unsur penting dalam penelitian adalah :

–       Observasi merupakan pengamatan/pengukuran terhadap fakta.

–       Nalar  memaknai fakta dan hubungan antar fakta.

Aktivitas dalam penelitian adalah :

–       Pengumpulan fakta.

–       Analisis dan sintesis.

–       Pengambilan keputusan.

 

1.  Metode ilmiah

              Metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan tentang suatu kebenaran.

Kriteria metode ilmiah :

–    Berdasarkan fakta (bukan kira-kira, khayalan, legenda).

–    Bebas dari prasangka (tidak subyektif).

–    Menggunakan prinsip-prinsip analisis (kausalitas & pemecahan masalah berdasarkan analisis yang logis).

–    Menggunakan hipotesis (sebagai pemandu jalan pikiran menuju pencapaian tujuan).

–    Menggunakan ukuran obyektif (bukan berdasarkan perasaan).

–    Menggunakan teknik kuantifikasi (nominal, rangking, rating).

–    Bersifat kritis, analistis, artinya metode menunjukkan adanya proses yang tepat untuk mengidentifikasi masalah dan menentukan metode untuk pemecahan masalah.

–    Bersifat logis, artinya dapat memberikan argumentasi ilmiah. Kesimpulan yang dibuat secara rasional berdasarkan bukti – bukti yang tersedia.

2.  Aspek-aspek dalam Penelitian

     a.  Aspek INPUT :

• Data Kuantitatif

• Data Kualitatif

• Landasan teori

b.  Aspek PROSES :

• Sistematis

• Terstruktur

• Koheren

• Pelaksanaan metode yang tepat

c.  Aspek HASIL :

• Pengungkapan kenyataan baru

• Pengembangan prinsip-prinsip untuk permasalahan baru

• Penemuan dan pengembangan prinsip-prinsip baru

• Penguasaan Iptek

d.  Aspek KUALIFIKASI :

• Originalitas masalah

• Originalitas prinsip yang dipakai

• Originalitas prinsip yang dihasilkan

• Keterpaduan dengan prinsip yang ada

• Pemilihan metode yang tepat

e.  Aspek PENELITI :

• Punya kompetensi

• Jujur

• Dapat bekerjasama

• Terbuka terhadap kritik dan saran

3.  Penelitian dikatakan “baik” jika :

     –    Tujuannya jelas.

     –    Dilakukan dengan hati-hati, cermat dan teliti.

     –    Rancangan metodologi yang cermat dan jelas.

     –    Mengembangkan hipotesis yang dapat diuji.

     –    Dapat diulang oleh peneliti lain sehingga dapat diuji validitas dan reliabilitasnya.

     –    Memiliki akurasi yang tinggi (dapat diterima).

     –    Obyektif, kesimpulan berdasarkan fakta

     –    Konsistensi istilah.

     –    Koherensi : terdapat keterkaitan antar bagian.

     –    Berimbang antara nilai manfaat dengan biaya.

4.  Jenis-jenis Penelitian :

     a.  Berdasarkan PENGGUNAAN HASIL :

1.  Penelitian DASAR :

• Menjawab rasa ingin tahu.

• Dalam rangka pengembangan ilmu.

• Tak langsung mempunyai kegunaan praktis.

2.  Penelitian TERAPAN :

• Untuk keperluan praktis tertentu

• Memperbaiki praktek-praktek yang ada, meningkatkan efektivitas dan efisiensi.

b.  Berdasarkan TUJUAN :

1.  Eksploratif :

• Menjawab hipotesis

• Mencari korelasi

• Inovasi (menemukan sesuatu yang baru)

2.  Pengembangan :

• Memperdalam pengetahuan

• Menerapkan teknologi

• Membuat prototype

3.  Verifikatif :

• Melakukan pengujian

• Studi perbandingan

c.  Berdasarkan Bidang Ilmu :

1.  Social science : ilmu sosial

2.  Natural science : ilmu alam

3.  Engineering : ilmu tekhnik

d.  Berdasarkan Tempat Penelitian :

1.  Laboratorium

2.  Lapangan

3.  Perpustakaan

e.  Berdasarkan Pendekatan :

1.  Longitudinal

2.  Cross-sectional

f.  Berdasarkan TARAF PENELITIAN :

1.  Penelitian deskriptif :

• Hanya menggambarkan keadaan obyek

• Analisis kualitatif

• Tanpa pengujian hipotesis

2.  Penelitian inferensial :

• Penarikan kesimpulan dengan pengujian hipotesis

g.  Penelitian Teoritis

Hanya menggunakan penalaran semata untuk  memperoleh kesimpulan penelitian. Misalnya : analytical approach. Dimulai dengan menyusun asumsi, logika berpikir dan praduga.

h.  Penelitian Eksperimental

Dilakukan dengan menciptakan fenomena pada kondisi terkendali, untuk menemukan hubungan sebab akibat dan pengaruh faktor-faktor pada kondisi tertentu.

i.   Penelitian Rekayasa

Penelitian yang menerapkan ilmu pengetahuan menjadi suatu rancangan, guna mendapatkan kinerja sesuai dengan persyaratan yang ditentukan. Rancangan tersebut merupakan sintesis yang dipadukan menjadi suatu model dengan spesifikasi tertentu.

j.   Penelitian Deduktif

Pendekatan deduktif dimulai dari keadaan umum (general) menuju ke hal-hal khusus (spesifik). Penelitian ini dimulai dengan dasar-dasar teori untuk menyusun suatu hipotesis. Dilanjutkan dengan observasi yang terkait dengan hipotesis. Pengujian hipotesis dengan data-data spesifik akan menjadi konfirmasi terhadap teori yang dibangun.

k.  Penelitian HISTORIS

Menerapkan metode pemecahan yang ilmiah dengan pendekatan historis. Proses penelitiannya meliputi pengumpulan dan penafsiran fenomena yang terjadi di masa lampau untuk menemukan generalisasi yang berguna untuk memahami, meramalkan atau mengendalikan fenomena. Penelitian historis dapat bersifat :

• Komparatif, yakni menunjukkan hubungan dari beberapa fenomena yang sejenis dengan menunjukkan persamaan dan perbedaannya.

• Bibliografis, yakni memberi gambaran menyeluruh tentang pendapat para ahli dengan menghimpun dokumen-dokumen terkait.

5.  Penelitian menurut para ahli :

                               Hilway, 1956 mendefinisikan suatu metode studi melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut.

Woody, 1927 mengatakan Penelitian meliputi pemberian definisi dan redefinisi terhadap masalah, merumuskan hipotesis atau jawaban sementara, membuat kesimpulan dan sekurang-kurangnya mengadakan pengujian yang hati-hati atas semua kesimpulan untuk menentukan kecocokan dengan hipotesis.

Parson, 1946 mendefinisikan Pencarian atas sesuatu (inquiry) secara sistematis terhadap masalah-masalah yang dapat dipecahkan.

Depdiknas RI, mengatakan bahwa kerjasama ilmiah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dalam rangka memperoleh informasi/temuan/produk baru melalui metodologi yang berkaitan erat dengan satu atau beberapa disiplin ilmu.

6.  Penelitian menurut kelompok kami :

                        Penelitian adalah percobaan hati – hati dan kriis serta obyektif untuk menemukan sesuatu yang baru.

KESIMPULAN

 

Kekhususan ilmu dibandingkan pengetahuan terletak pada kemampuan manusia untuk menyadari pengetahuan yang diperolehnya secara spontan dan langsung itu serta membuatnya teratur dalam suatu sistem, sehingga bila orang lain menanyakan, ia bisa menerangkan dan mempertanggungjawabkan. Dengan perkataan lain, pengetahuan-pengetahuan yang telah ada dikumpulkan, lalu diatur dan disusun sehingga masuk akal dan bisa dimengerti orang lain.

Proses sistematisasi pengetahuan menjadi ilmu biasanya melalui tahap-tahap sebagai berikut:

1.Tahap perumusan pertanyaan sebaik mungkin.

2.Merancang hipotesis yang mendasar dan teruji

3.Menarik kesimpulan logis dari pengandaian-pengandaian.

4.Merancang teknik men-tes pengandaian-pengandaian.

5.Menguji teknik itu sendiri apakah memadai dan dapat diandalkan.

6.Tes itu sendiri dilaksanakan dan hasil-hasilnya ditafsirkan.

7.Menilai tuntutan kebenaran yang diajukan oleh pengandaian-pengandaian itu  serta menilai kekuatan teknik tadi.

8.Menetapkan luas bidang berlakunya pengandaian-pengandaian serta teknik dan merumuskan pertanyaan baru.

Ilmu adalah sistematisasi, metodis dan logis. Pengetahuan disistematisasikan menjadi ilmu bisa lewat induksi dan deduksi. Penelitian adalah penyaluran hasrat ingin tahu manusia dalam taraf keilmuan.

Fungsi penelitian adalah membantu manusia meningkatkan kemampuannya untuk menginterprestasikan fenomena-fenomena masyarakat yang kompleks dan kait-mengait sehingga fenomen itu mampu membantu memenuhi hasrat ingin manusia. Ciri berpikir ilmiah adalah skeptik, analitik, kritis. Ilmu pengetahuan mendorong teknologi, teknologi mendorong penelitian, penelitian menghasilkan ilmu pengetahuan baru. Ilmu pengetahuan baru mendorong teknologi baru.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Pengetahuan

http://www.scu.edu.au/schools/gem/ar/whatisar.html

http://www.socialresearchmethods.net

http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu

Allah,,aku mau curhat :'(


Allah,,
Aku tak pernah minta dilahirkan ke dunia ini,,
Yang aku tau,,
Aku hanya teringat ketika aku berlari kesana,kemari,,,
bermain dengan sepeda roda tigaku,,
tanpa kuingat apa janjiku padamu ketika di rahim ibuku,,
bagaimana proses kelahiranku dan seperti apa masa2 bayiku,,

Allah,,
Aku tak pernah minta tumbuh hingga sedewasa ini,,
Yang aku tahu,,
Waktu trus berputar,,
Dari aku yang masih ditanggung dosanya,hingga kini aku yang penuh dosa,,
Aku telah dewasa,namun aku tak bahagia,,

Allah,,
Jangan katakan aku manusia yang tak bersyukur,,
Aku bersyukur atas nikmat yang kau berikan,,
Bahkan ketika aku melihat nasib orang2 di bawahku,aku terenyuh,,

Allah,,
Bukan hanya materi yang kuinginkan,,
Aku ingin kebahagiaan bathin,,
Yang belum pernah kutemui,,

Allah,,
Aku memang punya orang tua lengkap,,
Aku patut bersyukur,,
Aku punya ayah,ibu,,

Allah,,
Tapi aku menyesal,,
Kenapa aku harus lahir dari rahim ibuku,,
Kenapa tidak dr rahim ibu lain :),,
Yang dapat memberikan kasih sayang dan tuntunan kepada aku anaknya,,

Allah,,
Bukannya aku tak sayang ibu,,
Bukannya aku ingin melawan,,
Tapi ini jeritan hatiku selama ini,,

Allah,,
Aku hanya bisa melihat ayahku yang mulai renta dimaki,dikasari,dihujat,,
Beragam kata kasar dari ibu,beragam kekasaran dari ibu,,
Yang kami terima,,

Allah,,
Aku merasa seperti binatang di rumah ini,,
Sekalipun manusia,aku hanya seperti budak,,

Allah,mungkin semua orang akan balik menghujatku,,
Ketika aku bercerita,,
Karena yang mereka tahu,,
Ibu mereka adalah pelita bagi mereka,,

Tapi Allah,,
Hanya aku, Engkau, dan keluargaku yang tau,,
Aku berharap, kelak aku akan menemukan kebahagiaan,,
Suatu saat nanti,,

Amiin,,


Praktikum
Pengaruh Ekstrak Alang-alang (Imperata cylindria) Terhadap Perkecambahan

I. Waktu dan Tempat
Hari : Jumat
Tanggal : 7 Januari 2011
Waktu : 13.40 – 15.20 WIB
Tempat : Laboratorium Biologi Universitas Muhammadiyah Prof.Dr.Hamka

II. Tujuan
Mengetahui pengaruh ekstrak alang-alang terhadap perkecambahan biji jagung.

III. Alat dan Bahan
Alat : Bahan :
1. 4 buah Cawan petri 1. Air secukupnya.
2. Tissu 2. Biji jagung.
3. Gunting 3. Rhizoma alang-alang
4. Gelas ukur
5. Beaker glass
6. Pisau
7. Blender
8. Saringan
9. Timbangan (neraca digital).
10. Label
11. Alat tulis

IV. Cara Kerja
1. Mengambil 100 gram rhizoma alang-alang kemudian memotongnya kecil-kecil dengan menggunakan pisau.
2. Menambahkan 900 gram air pada rhizoma yang telah dipotong ke dalam blender.
3. Memblender rhizoma selama 15 menit, kemudian mendiamkannya selama 1 jam sambil sekali-sekali diaduk.
4. Menyaring rhizoma agar terpisah dengan bahan yang masih kasar.
5. Mendiamkan rhizoma selama beberapa jam.
6. Mengambil filtrat rhizoma yang telah didiamkan lalu membuat ekstrak rhizoma alang-alang dengan konsentrasi larutan 2.5%, 5%, dan 10% (w/w)
7. Menggunting tissu sesuai ukuran cawan petri lalu menaruhnya sebagai alas (media).
8. Menuangkan air/ekstrak alang-alang ke dalam cawan petri yang beralaskan tissue;
– Cawan 1  menambahkan air sebanyak 20 ml.
– Cawan 2  menambahkan ekstrak alang-alang 2.5% sebanyak 20 ml
– Cawan 3  menambahkan ekstrak alang-alang 5% sebanyak 20 ml
– Cawan 4  menambahkan ekstrak alang-alang 10% sebanyak 18 ml
9. Mengambil biji jagung sebanyak 40 biji.
10. Meletakkan 10 biji jagung pada masing-masing cawan petri
11. Memberi label pada cawan petri agar tidak tertukar.
12. Menyimpan cawan pada tempat yang gelap diamkan selama beberapa hari.
13. Mencatat perkembangan kecambah jagung dan mencatat hasil pengamatan dalam tabel.

V. Hasil dan Pembahasan
• Tabel Hasil Pengamatan Pertumbuhan Kecambah
Konsentrasi persen Tumbuh kecambah
( biji ) Tidak tumbuh kecambah
( biji )
0 %
2.5 %
5 %
10 % 6
2
1
1 4
8
9
9

Grafik Pertumbuhan Kecambah

• Pembahasan
Pada tabel di atas dapat diketahui bahwa pada konsentrasi 0% (hanya air) jagung dapat berkecambah sebanyak 6 biji. Pada konsentrasi 2.5% ekstrak alang-alang + air, jagung berkecambah sebayak 2 biji, sedangkan pada konsentrasi 5% dan 10% jagung hanya berkecambah 1 biji.
Jika melihat dalam grafik terlihat suatu garis menurun dari jumlah paling banyak hingga paling sedikit, ini menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi ekstrak alang-alang yang diberikan semakin sedikit jumlah biji jagung yang berkecambah. Jadi, perbedaan besarnya konsentrasi mempengaruhi banyaknya jumlah kecambah yang tumbuh. Ini dapat dilihat pada ekstrak alang-alang konsentrasi 2.5% dengan konsentrasi 5% (hanya 1 biji jagung yang berkecambah). Adanya perbedaan jumlah kecambah ini dapat terjadi karena ….
VI. Kesimpulan
• Ekstrak alang-alang dapat mempengaruhi perkecambahan pada jagung.
• Semakin besar konsentrasi ekstrak alang-alang semakin sedikit (kecil) jumlah perkecambahan pada jagung.
• Perbedaan konsentrasi pada suatu ekstrak dapat mempengaruhi pertumbuhan kecambah, (dalam hal ini konsentrasi ekstrak alang-alang rhizome terhadap pertumbuhan jagung).


PRAKTIKUM 6
PERKECAMBAHAN BIJI SAGA

A. Waktu dan Tempat Percobaan
Hari/Tanggal : Jum’at, 24 Desember 2010
Waktu : 14.30 – 15.10 WIB
Tempat : Laboratorium Biologi UHAMKA

B. Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui perkecambahan biji saga sesuai dengan masing-masing perlakuan yang diberikan sebelum memulai proses perkecambahan.

C. Alat dan Bahan
• Alat
1. Amplas.
2. Cawan petri 4 buah.
3. Tissue.
4. Lemari Es.
5. Gunting.
6. Label
7. Alat tulis
• Bahan
1. Biji saga 40 buah.
2. Air

D. Cara Kerja
1. Membuat tabel pengamatan.
2. Menyiapkan empat buah cawan petri.
3. Menyiapkan empat puluh buah biji saga.
4. Memberi label pada cawan petri untuk menandai cawan petri I, II, III, dan IV.
5. Melipat tissue menjadi empat lipatan dan digunting melingkar sesuai ukuran bagian dalam cawan petri.
6. Meletakkan tissue yang telah digunting ke dalam cawan petri dan meratakan bagiannya agar tidak ada bagian yang menggelembung.
7. Memisahkan biji saga tersebut menjadi tiga kelompok, sepuluh buah yang tidak diamplas, sepuluh buah yang direndam air mendidih, dan dua puluh bah yang diampelas.
8. Mengampelas kulit biji dari dua puluh buah biji saga hingga terlihat bagian putihnya.
9. Merendam sepuluh buah biji saga dalam air mendidih selama 4 menit.
10. Memasukkan sepuluh biji saga yang tidak diamplas ke dalam cawan I dan mengaturnya agar tidak saling berhimpitan, kemudian menuangkan 20 ml air ke dalam cawan tersebut.
11. Memasukkan sepuluh buah biji saga yang telah diampelas ke dalam cawan II dan mengaturnya agar tidak saling berhimpitan dan bagian yang diampelas yang terkena air, kemudian menuangkan 20 ml air ke dalam cawan tersebut.
12. Memasukkan sepuluh biji saga yang telah direndam dengan air mendidih ke dalam cawan III dan mengaturnya agar tidak saling berhimpitan, kemudian menuangkan 20 ml air ke dalam cawan tersebut.
13. Melakukan seperti cara kerja no. 11, yaitu memasukkan sepuluh biji saga yang telah diampelas dan menuangkan 20 ml air ke dalam cawan tersebut. Hanya saja untuk cawan IV ini disimpan di dalam lemari es.
14. Menyimpan cawan I, II, dan III di tempat gelap yang tidak terkena sinar matahari.
15. Mengamati perubahan-perubahan yang terjadi selama 1 minggu.
16. Mencatat hasil setelah 1 minggu penelitian.

Tabel Pengamatan
Cawan Keterangan

I ( 10 biji saga+20 ml air
II ( 10 biji saga diamplas+20 ml air
III ( 10 biji saga direndam+20 ml air )
IV ( 10 biji saga diamplas+20 ml air dalam lemari es )

E. Hasil dan Pembahasan
• Hasil
Cawan Keterangan

I ( 10 biji saga+20 ml air Tidak ada yang berkecambah, hanya 3 buah biji saga mengembang
II ( 10 biji saga diamplas+20 ml air Semua biji saga dalam cawan mengembang dan berkecambah
III ( 10 biji saga direndam+20 ml air ) 9 buah biji saga mengembang dan berkecambah, hanya 1buah yang tidak mengembang dan berkecambah
IV ( 10 biji saga diamplas+20 ml air dalam lemari es ) Semua biji saga dalam cawan mengembang

• Pembahasan
Pada percobaan kali ini, proses perkecambahan biji saga akan dilihat dari masing-masing perlakuan berbeda yang diberikan pada setiap cawan. Dari setiap cawan masing-masing diisi dengan 10 buah biji saga, untuk cawan II dan IV biji saga yang digunakan adalah biji saga yang telah diamplas kulit bijinya sehingga terlihat bagian yang berwarna putih hanya saja untuk cawan IV diberi perlakuan yang berbeda yaitu disimpan dalam lemari es, untuk cawan III biji saga yang digunakan adalah biji saga yang sebelumnya telah direndam air panas selama 4 menit, dan untuk cawan I biji saga yang digunakan adalah biji saga yang tidak diberi perlakuan khusus, dan tidak ada perlakuan khusus untuk air yang diberikan karena masing-masing dari cawan diisi 20 ml air.
Pada hari ke-4 sudah terlihat sedikit perbedaan antara masing-masing cawan. Hampir semua biji saga pada cawan mengembang, namun untuk cawan I hanya 3 biji saga yang mengembang dan cawan IV semuanya mengembang.. Kemudian pada hari ke-5 beberapa biji saga pada cawan II dan III sudah terlihat berkecambah, namun pada cawan I tidak ada perkembangan. Pada hari ke-8, seperti yang terlihat pada tabel pengamatan, pada cawan I yaitu cawan yang berisi 20 biji saga dan 20 ml air hanya 3 buah biji saga yang mengembang dan tidak ada yang berkecambah. Pada cawan II, yaitu cawan yang berisi 20 biji saga yang telah diamplas dan 20 ml air, semua biji saga mengembang dan berkecambah. Pada cawan III, yaitu cawan yang berisi 10 buah biji saga yang direndam air mendidih dan 20 ml air, 9 biji saga mengembang dan berkecambah dan hanya 1biji saga yang tidak. Kemudian pada cawan IV, yang memiliki perlakuan sama seperti cawan II hanya saja disimpan di dalam lemari es, semua biji saga mengembang.
Pada cawan yang berisi semua biji yang diamplas semua mengembang karena proses pengamplasan itu telah mengikis kulit biji yang keras sehingga lebih mudah dalam penyerapan air dalam proses imbibisinya, selain itu kecambah lebih mudah menembus ke luar, oleh karena itu, saat mengamplas kulit biji, semakin terlihat bagian putih dari biji saga tersebut semakin mudah biji saga tersebut berkecambah. Begitu juga dengan cawan yang berisi biji saga yang telah direndam air panas, karena untuk memulai suatu proses perkecambahan biji seharusnya direndam dulu dengan air panas agar air panas tersebut meresap ke dalam bagian inti biji melalui pori-pori biji sehingga merangsang perkecambahan. Selain itu, kacang yang telah direndam teksturnya menjadi lebih lunak sehingga lebih mudah berimbibisi. Pada cawan I, biji saga tidak diberikan perlakuan khusus seperti diamplas ataupun direndam, sehingga biji akan sulit berkecambah atau bahkan tidak bisa berkecambah. Pada cawan IV, semua biji seharusnya berkecambah, tetapi karena disimpan dalam lemari es maka proses perkecambahan menjadi lebih lama. Karena saat berkecambah, enzim dalam biji saga bekerja terus menerus namun temperatur yang di bawah normal dapat menghambat kerja enzim tersebut.
Berdasarkan hasil pengamatan tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan yang diberikan pada masing-masing cawan dapat menjadi faktor yang memepengaruhi perkecambahan yang juga mempengaruhi kerja enzim yang terkandung dalam biji saga saat mengalami proses perkecambahan.

F. Kesimpulan
Biji saga dapat mengembang karena diberi perlakuan khusus seperti direndam dengan air mendidih dan diamplas. Biji saga yang terlebih dahulu direndam dengan air panas dapat berkecambah karena air panas tersebut telah membuat struktur biji saga menjadi lebih lunak sehingga lebih mudah berimbibisi. Sedangkan biji yang diamplas kulit bijimya terlebih dahulu dapat mudah berkecambah karena memudahkan kecambah untuk menembus keluar dan lebih mudah juga dalam berimbibisi. Selain itu, pengaruh suhu juga mempengaruhi kerja enzim yang terkandung dalam biji saga, karena kerja enzim akan menjadi lambat sehinga proses perkecambahan juga menjadi lambat tidak seperti yang di suhu normal. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan khusus yang diberikan pada biji saga tersebut dapat membantu proses perkecambahan biji saga.

..


.

MANFAAT WUDHU DAN SHALAT


WUDHU
a. Manfaat secara umum
Kulit merupakan organ yang terbesar tubuh kita yang fungsi utamanya membungkus tubuh serta melindungi tubuh dari berbagai ancaman kuman, racun, radiasi juga mengatur suhu tubuh, fungsi ekskresi ( tempat pembuangan zat-zat yang tak berguna melalui pori-pori ) dan media komunikasi antar sel syaraf untuk rangsang nyeri, panas, sentuhan secara tekanan. Begitu besar fungsi kulit maka kestabilannya ditentukan oleh pH (derajat keasaman) dan kelembaban. Bersuci merupakan salah satu metode menjaga kestabilan tersebut khususnya kelembaban kulit. Kalu kulit sering kering akan sangat berbahaya bagi kesehatan kulit terutama mudah terinfeksi kuman. Dengan bersuci berarti terjadinya proses peremajaan dan pencucian kulit, selaput lendir, dan juga lubang-lubang tubuh yang berhubungan dengan dunia luar (pori kulit, rongga mulut, hidung, telinga). Seperti kita ketahui kulit merupakan tempat berkembangnya banya kuman dan flora normal, diantaranya Staphylococcus epidermis, Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogenes, Mycobacterium sp (penyakit TBC kulit). Begitu juga dengan rongga hidung terdapat kuman Streptococcus pneumonia (penyakit pneumoni paru), Neisseria sp, Hemophilus sp. Seorang ahli bedah diwajibkan membasuh kedua belah tangan setiap kali melakukan operasi sebagai proses sterilisasi dari kuman. Cara ini baru dikenal abad ke-20,sebagaimana kita tahu jepang membutuhkan 100 tahun untuk membiasakan cuci tangan, kapanye2 cuci tangan juga sedang gencar2nya di media massa, padahal umat Islam sudah membudayakan sejak abad ke-14 yang lalu. Luar Biasa!
b. Keutamaan Berkumur -kumur
berarti membersihkan rongga mulut dari penularan penyakit. Sisa makanan sering mengendap atau tersangkut di antara sela gigi yang jika tidak dibersihkan ( dengan berkumur-kumur atau menggosok gigi) akhirnya akan menjadi mediasi pertumbuhan kuman. Dengan berkumur-kumur secara benar dan dilakukan lima kali sehari berarti tanpa kita sadari dapat mencegah dari infeksi gigi dan mulut.
c. Istinsyaq
berarti menghirup air dengan lubang hidung, melalui rongga hidung sampai ke tenggorokan bagian hidung (nasofaring). Fungsinya untuk mensucikan selaput dan lendir hidung yang tercemar oleh udara kotor dan juga kuman. Selama ini kita ketahui selaput dan lendir hidung merupakan basis pertahanan pertama pernapasan. Dengan istinsyaq mudah-mudahan kuman infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dapat dicegah. Begitu pula dengan pembersihan telinga sampai dengan pensucian kaki beserta telapak kaki yang tak kalah pentingnya untuk mencegah berbagai infeksi cacing yang masih menjadi masalah terbesar di negara kita
MANFAAT GERAKAN SHOLAT
a. berdiri lurus
Berdiri lurus adalah pelurusan tulang belakang, dan menjadi awal dari sebuah latihan pernapasan, pencernaan dan tulang.
b. Takbir Takbir merupakan latihan awal pernapasan, Paru-paru adalah alat pernapasan, Paru kita terlindung dalam rongga dada yang tersusun dari tulang iga yang melengkung dan tulang belakang yang mencembung. Susunan ini didukung oleh dua jenis otot yaitu yang menjauhkan lengan dari dada (abductor) dan mendekatkannya (adductor). Takbir berarti kegiatan mengangkat lengan dan merenggangkannya, hingga rongga dada mengembang seperti halnya paru-paru. Dan mengangkat tangan berarti meregangnya otot-otot bahu hingga aliran darah yang membawa oksigen menjadi lancar.
c. Ruku Dengan ruku’,
memperlancar aliran darah dan getah bening ke leher oleh karena sejajarnya letak bahu dengan leher. Aliran akan semakin lancar bila ruku’ dilakukan dengan benar yaitu meletakkan perut dan dada lebih tinggi daripada leher. Ruku’ juga mengempiskan pernapasan. Pelurusan tulang belakang pada saat ruku’ berarti mencegah terjadinya pengapuran. Selain itu, ruku’ adalah latihan kemih (buang air kecil) untuk mencegah keluhan prostat. Pelurusan tulang belakang akan mengempiskan ginjal. Sedangkan penekanan kandung kemih oleh tulang belakang dan tulang kemaluan akan melancarkan kemih. Getah bening (limfe) fungsi utamanya adalah menyaring dan menumpas kuman penyakit yang berkeliaran di dalam darah.d. Sujud Sujud Mencegah Wasir, mengalirkan getah bening dari tungkai perut dan dada ke leher karena lebih tinggi. Dan meletakkan tangan sejajar dengan bahu ataupun telinga, memompa getah bening ketiak ke leher. Selain itu, sujud melancarkan peredaran darah hingga dapat mencegah wasir. Sujud dengan cepat tidak bermanfaat. Ia tidak mengalirkan getah bening dan tidak melatih tulang belakang dan otot. Tak heran kalau ada di sebagian sahabat Rasul menceritakan bahwa Rasulullah sering lama dalam bersujud. Selain itu sujud adalah manifestasi ketotalan kita dalam berpasrah diri kepada Allah, bahwa manusia adalah mahluk yang lemah, seorang hamba yang sudah bisa menikmati sholatnya, maka jiwanya dalam titik nol, dalam kondisi yang paling pasrah dan stabil, seseorang yang dilanda stres akan terlepas segala beban di jiwa dalam posisi ini.selain secara fisik otot2 leher yang kaku karena stres akan diulur, sehingga seorang hamba yang beriman dan pandai memaknai sholatnya tidak akan pernah dilanda keputusasaan (Stress)
e. Duduk antara 2 sujud
Duduk di antara dua sujud dapat mengaktifkan kelenjar keringat karena bertemunya lipatan paha dan betis sehingga dapat mencegah terjadinya pengapuran. Pembuluh darah balik di atas pangkal kaki jadi tertekan sehingga darah akan memenuhi seluruh telapak kaki mulai dari mata kaki sehingga pembuluh darah di pangkal kaki mengembang. Gerakan ini menjaga supaya kaki dapat secara optimal menopang tubuh kita.
f. Salam
Gerakan salam yang merupakan penutup sholat, dengan memalingkan wajah ke kanan dan ke kiri bermanfaat untuk menjaga kelenturan urat leher. Gerakan ini juga akan mempercepat aliran getah bening di leher ke jantung.
Sholat Lebih Canggih dari Yoga “Apakah pendapatmu sekiranya terdapat sebuah sungai di hadapan pintu rumah salah seorang di antara kamu dan dia mandi di dalamnya setiap hari lima kali. Apakah masih terdapat kotoran pada badannya?”. Para sahabat menjawab : “Sudah pasti tidak terdapat sedikit pun kotoran pada badannya”. Lalu beliau bersabda : “Begitulah perumpamaan sholat lima waktu. Allah menghapus segala kesalahan mereka”. (H.R Abu Hurairah r.a).
Belum lagi manajemen yang terkandung dalam bacaan sholat. Seperti doa iftitah yang berarti mission statement (dalam manajemen strategi). Sedangkan makna bacaan Alfatihah yang kita baca berulang sampai 17 kali adalah objective statement. Tujuan hidup mana yang lebih canggih dibandingkan tujuan hidup di jalan yang lurus, yaitu jalan yang penuh kebaikan seperti diperoleh orang-orang shaleh seperti nabi dan rasul.