PRAKTIKUM 1
PEMBIAKAN MIKROBA TANAH PADA MEDIA KENTANG DAN APEL
KAMIS, 14 JANUARI 2010

1. Tujuan
Mengamati dan mengetahui pertumbuhan mikroorganisme pada media apel dan kentang.

2. Teori
Tanah
Di setiap tempat seperti dalam tanah, udara, maupun air selalu dijumpai mikroba. Umumnya jumlah mikroba dalam tanah terutama tanah sampah lebih banyak daripada di dalam air ataupun udara. Umumnya bahan organik maupun anorganik lebih tinggi dalam tanah sehingga cocok untuk pertumbuhan mikroba heterotrof maupun autotrof.
Keberadaan mikroba dalam tanah dipengaruhi oleh sifat kimia dan fisika tanah. Komponen penyusun tanah yang terdiri atas pasir, debu, lempung dan bahan organik maupun bahan penyemen lain kaan membentuk struktur tanah. Struktur tanah akan menentukan keberadaan oksigen dan lengas dalam tanah. Dalam hal ini akan terbentuk lingkungan mikro dalam suatu tanah. Mikroba akan membentuk mikrokoloni dalam struktur tanah tersebut, dengan tempat pertumbuhan tanah yang sesuai dengan sifat mikroba dan lingkungan yang diperlukan.
Dalam suatu struktur tanah dapat dijumpai berbagai mikrokoloni, mikroba-mikroba tersebut mempunyai kemampuan untuk merubah suatu senyawa lain menjadi senyawa lain dalam rangka untuk mendapatkan energi dan nutrien. Demikian dengan adanya mikroba tersebut, menyebaabkan terjadinya daur unsur-unsur seperti karbon, nitrogen, fosfor, dan unsur lain di alam.

Media
Susunan bahan, baik bahan alami ( seperti toge, kentang, daging, apel, kentang, dan sebagainya ) ataupun bahan buatan ( berbentuk senyaea organik ataupun anorganik ) yang dipergunakan untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba disebut media.
Agar mikroba dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di dalam media, diperlukan persyaratan tertentu, yaitu bahwa:
1) Di dalam media harus terkandung semua unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba.
2) Media harus mempunyai tekanan osmosis, tegangan permukaan, dan PH yang sesuai dengan kebutuhan mikroba.
3) Media harus dalam keadaan steril, artinya sebelum ditanami mikroba yang dimaksud, tidak ditumbuhi oleh mikroba lain yang tidak diharapkan.

3. Alat dan Bahan
Alat:
 Pisau dapur
 Bunsen
 Nampan
 Spatula
 Kertas label dan alat tulis
Bahan:
 Kentang ( 6 buah )
 Apel ( 6 buah )
 Tanah sampah, tanah sawah, tanah lapangan
 Mamalime
 Air bersih
 Tissue gulung
 Kapas ( 3 gulungan besar )
 Alumunium foil ( 1 gulungan )

4. Cara Kerja
1. Mencuci kentang sampai bersih dan merendamnya dengan air yang telah dicampur dengan mamalime.
2. Mencuci bersih semua alat yang akan dipakai.
3. Mengeringkan buah dan alat yang telah dicuci bersih.
4. Melubangi kentang dan apel dengan pisau dapur bersih yang sebelumnya dipanaskan terlebih dahulu dengan menggunakan bunsen.
5. Membersihkan dan memanaskan kembali pisau setelah selesai melubangi.
6. Mengisi lubang pada apel dan kentang dengan tanah yang telah disiapkan.
7. Menutup lubang pada apel dan kentang yang telah terisi tanah dengan kapas steril.
8. Membungkus kentang dan apel dengan alumunium foil.
9. Memberi keterangan pada tiap-tiap kentang dan apel dan membiarkannya selama seminggu.
10. Melakukan pengamatan terhadap apel dan kentang dan mencatat penampakan yang terjadi.

5. Hasil Pengamatan

6. Kesimpulan
Di dalam tanah sampah kandungan unsur hara seperti nitrogen, karbon, fosfor dan humusnya lebih banyak terdapat jika dibandingkan dengan tanah sawah dan tanah lapangan. Karena di dalam tanah sampah banyak terjadi proses penguraian bahan-bahan organik maupun anorganik yang dilakukan oleh mikroba-mikroba yang terdapat di dalam tanah sampah tersebut. Oleh karena itu tanah sampah tersebut dapat membuat busuk media apel dan kentang yang diujikan karena mikroba dan zat-zat hara paling banyak ditemukan pada tanah sampah.

PRAKTIKUM 2
STERILISASI ALAT
KAMIS, 14 JANUARI 2010

1. Tujuan
Mempelajari teknik atau cara dari proses sterilisasi pada alat dan bahan.

2. Teori
Sterilisasi yaitu proses atau kegiatan membebaskan suatu bahan atau benda dari semua macam kehidupan. Pada prinsipnya dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara fisik, kimia, dan mekanik.
Steril akan didapatkan melalui sterilisasi, baik yang dilakukan:
1. Secara fisik
Selama senyawa kimia yang akan disterilkan tidak akan berubah dan terurai akibat temperatur tinggi, selama itu sterilisasi secara fisik dapat dilakukan. Cara sterilisasi ini dilakukan dengan menggunakan tekanan tinggi. Sterilisasi ini dapat dilakukan secara pemanasan dan penyinaran.
 Pemanasan.
a) Pemijaran: membakar alat pada api secara langsung, contoh: jarum ose, pinset, dll.
b) Panas kering: sterilisasi dengan oven, sterilisasi ini cocok untuk alat yang terbuat dari kaca, contoh: erlenmeyer, tabung reaksi, dll.
c) Uap air panas: Konsep ini mirip mengukus. Bahan yang mengandung air lebih tepat jika menggunakan media ini agar tidak terjadi dehidrasi .
d) Uap air panas bertekanan: Dengan menggunakan autoklaf
 Penyinaran UV
Sinar UV ini juga dapat digunakan untuk proses sterilisasi, misalnya untuk membunuh mikroba yang menempel pada permukaan interior safety Cabinet dengan disinari dengan lampu UV.
2. Secara kimia
Senyawa kimia yang banya digunakan sebagai desinfektan antara lain larutan CuSO4, AgNO3, ZnO, dan sebagainya serta larutan alkohol dan campurannya, misalnya dengan penggunaan desinfektan, larutan alkohol, larutan formalin, larutan AMC, dan sebagainya.
3. Secara mekanik
Untuk beberapa bahan yang akibat pemanasan tinggi akan mengalami perubahan, maka sterilisasinya harus dilakukan secara mekanik. Di dalam bidang mikroba, penyaringan merupakan sterilisasi secara fisik, serta banyak digunakan dengan cara filter khusus, misalnya dengan penggunaan saringan atau filter khusus. Sterilisasi ini menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Proses ini ditunjukkan untuk sterilisasi bahan yang peka panas.
Bahan ataupun peralatan yang dipergunakan di dalam mikrobiologi harus dalam keadaan steril. Artinya, pada bahan atau perlatan tersebut tidak terdapat mikroba yang tidak diharapkan kehadirannya, baik akan mengganggu atau merusak media ataupun mengganggu kehidupan dan proses yang sedang dikerjakan.

3. Alat dan Bahan
Alat:
 Tabung reaksi ( 12 )
 Autoklav
 Jarum ose
 Erlenmeyer
 Spatula
 Nampan
 Alat tulis dan label
Bahan:
 Kertas Sampul
 Kapas
 Tissue gulung
 Karet gelang

4. Cara Kerja
1. Mencuci cawan petri, tabung reaksi, jarum ose, dan erlenmeyer dengan mamalime sampai bersih kemudian mengeringkannya dengan tissue bersih.
2. Menutup alat-alat tersebut dengan kapas dan membungkusnya dengan kertas sampul dan mengikatnya dengan karet.
3. Mensterilisasi alat-alat tersebut dengan autoklav pada T=121°C, p=1.5 1tm, selama 15 menit.
4. Meletakkan alat-alat yang telah disterilisasi di atas nampan, dan menyimpannya selama seminggu.

PRAKTIKUM 3
PEMBUATAN MEDIA TANAM
KAMIS,21 JANUARI 2010

1. Tujuan
Mempelajari dan mengetahui cara pembuatan media padat Potato Sucrose Agar ( PSA ).

2. Teori
Media pertumbuhan mikroba adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat makanan ( nutrisi ) yang diperlukan mikroorganisme untuk pertumbuhannya. Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi media berupa molekul-molekul kecil yang dirakit untuk menyusun komponen sel. Dengan media pertumbuhan, dapat dilakukan isolasi mikroorganisme menjadi kultur murni dan juga memanipulasi komposisi media pertumbuhannya.
Bahan-bahan media pertumbuhan
1. Bahan dasar
 air ( H2O ), sebagai pelarut
 agar-agar, sebagai pemadat media agar sulit didegradasi oleh mikroba.
 Gelatin, memiliki fungsi yang sama dengan agar-agar, tetapi kekurangnnya adalah lebih mudah didegradasi oleh mikroba jika dibandingkan dengan agar-agar.
 Silica gel, bahan yang mengandung natrium silikat, sebagai pemadat media. Silica gel khusus digunakan untuk memadatkan media oganisme eutotrof obligat.
2. Nutrisi atau zat makanan
Media harus mengandung unsur-unsur yang diperlukan untuk metabolisme sel yaitu berupa unsur makro seperti C, H, O, N, P dan unsur mikro seperti Fe, Mg dan Pelikan
3. Bahan tambahan
Bahan yang ditambahkan ke dalam medium dengan tujuan tertentu
4. Bahan yang sering digunakan dalam pembuatan media.
 Agar-agar, agar dapat diperoleh dalam bentuk batangan atau bubuk
 Peptone, produk hidrolisis protein hewani atau nabati
 Meat extract
 Yeast estract
 Karbohidrat
Sesuai dengan fungsi fisiologis dari masing-masing komponen hara yang terdapat dalam media, maka susunan media untuk semua jenis memiliki kesamaan isi, yaitu:
1. Kandungan air
2. Kandungan nitrogen
3. Kandungan sumber energi
4. Faktor pertumbuhan

3. Alat dan Bahan
Alat:
 Timbangan
 Pisau dapur
 Gelas ukur
 Kain saring
 Spatula
 Panci kecil
 Kompor
 Erlenmeyer
 Autoclave
 Bunsen
 Baskom
 Alat-alat yang telah disterilisasi ( pada praktikum 2 )
Bahan:
 Agar-agar ( 20gr )
 Kentang ( 200gr )
 Akuades ( 1000ml )

3. Cara Kerja
1. Mengupas kulit kentang dan memotong kentang tersebut menjadi bentuk dadu, kemudian mencuci bersih kentang dan menimbangnya.
2. Menyiapkan panci kecil bersih yang berisi 500ml akuades dan memasukkan potongan kentang tersebut ke dalam panci dan memasaknya di atas kompor yang menyala.
3. Mengangkat kentang tersebut ketika airnya hampir tiris, kemudian mengambil ekstrak kentang tersebut dengan kain saring.
4. Memasak 20gr agar-agar dengan 500ml akuades dan mengusahakan supaya agar tersebut tidak menggumpal.
5. Menyaring agar yang telah mendidih dengan kain saring.
6. Mencampur agar lunak tersebut dengan ekstrak kentang dan mendidihkannya kembali.
7. Menambahkan sukrosa pada campuran tersebut dan mengaduknya kemudian menyaringnya kembali.
8. Memasukkan bahan yang telah jadi ke dalam erlenmeyer.
9. Membungkus erlenmeyer tersebut dengan alumunium foil kemudian membungkusnya kembali dengan kertas sampul dan mengikatnya dengan karet.
10. Mensterilisasikan bahan tersebut dengan autoklaf dengan T = 121°C, P = 1.5 atm, selama 15menit.
11. Menuang media yang telah disterilisasikan ke dalam cawan petri dan tabung reaksi yang telah disterilisasikan dengan cara mendekatkannya ke bunsen dan langsung ditutup kembali, untuk cawan petri ditutup dengan menggunakan penutupnya dan untuk tabung dengan kapas.
12. Melakukan kegiatan tersebut dengan cepat agar tidak terkontaminasi oleh mikroba lain. Untuk tabung reaksi dibedakan menjadi dua, ada yang tegak dan ada yang dimiringkan.
PRAKTIKUM 4
PENANAMAN MIKROBA DENGAN MEDIA KENTANG DAN APEL
KAMIS, 21 JANUARI 2010

1. Tujuan
Mengamati sifat pertumbuhan dan bentuk koloni mikroba pada berbagai macam media

2. Teori
Inokulasi adalah menanam inokula secara aseptik ke dalam media steril. Inokula adalah bahan atau media yang mengandung mikroba. Semua pekerjaan mikrobiologi harus dikerjakan secara aseptik, kerja aseptik dilakukan dengan cara bekerja dengan nyala api bunsen. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan terjadinya kontaminasi.
Sebelum melakukan kerja, alat-alat harus disterilkan terlebih dahulu, sedangkan bunsen dinyalakan 10 menit terlebih dahulu sebelum bekerja yang bertujuam agar terjadi radiasi sehingga mikroorganisme menjauh.
Pertumbuhan pada media:
1. Plat agar: terdapat koloni putih kekuningan bintik-bintik bulat, berarti Micrococcus lutea dapat tumbuh dengan baik pada media agar. Cara menginokulasikannya adalah dengan menggunakan jarum ose dan menggoreskan inokula secara zig-zag pada media.
2. Agar miring: banyak koloni putih kekuningan, berarti bakteri adalah aerob, karena dapat tumbuh dengan lingkungan beroksigen. Cara menginokulasikannya adalah menggunakan jarum ose untuk menggoreskan inokula secara zig-zag pada media agar miring.
3. Agar tegak: koloni di atas banyak, ada gelembung, berarti bakteri anaerob berhasil menghasilkan gas. Cara menginokulasikannya adalah dengan menggunakan jarum ose untuk menusuk agar tegak.
4. Media cair: terdapat endapan di dasar.
Media dibuat miring, dan tegak karena memiliki fungsi-fungsi tertentu.
 Agar miring: digunakan untuk menganalisis kuantitatif yaitu menghitung koloni.
 Agar tegak: untuk menentukan bakteri, apakah anaerob, apakah aerob.
Cara menginokulasikannya adalah dengan pipet pasteur atau dengan jarum ose bundar

3. Alat dan Bahan
Alat:
 Jarum ose
 Bunsen
 Tissue
 Kertas label dan alat tulis
Bahan:
 Media PSA yang siap digunakan ( percobaan 3 )
 Media apel dan kentang ( percobaan 1 )
 Alkohol 70%

4. Cara Kerja
1. Menyemprotkan tangan dengan alkohol 70% sebelum melakukan kegiatan.
2. Menyiapkan media PSA dan menginokulasikannya dengan mikroba tanah yang terdapat pada media apel dan kentang.
3. Menggoreskan masing-masing tanah yang terdekat dengan daging buah pada permukaan media cawan petri dan pada agar miring, menggoreskannya dengan bentuk zig-zag, dan pada agar tegak dengan menusuk hingga hampir ke dasar agar tersebut. Lalu menutupnya kembali dan memberi label.
4. Memanaskan jarum ose dengan bunsen sesaat sebelum menginokulasikan.
5. Mengamati penampakan koloni dan mencatat hasilnya.

PRAKTIKUM 5
IDENTIFIKASI MIKROBA
SENIN, 25 JANUARI 2010

1. Tujuan
Mengidentifikasi mikroba dari semua hasil praktikum yang telah dilakukan.

2. Teori
Mikroorganisme atau mikroba adalah organisme mikroskopik yang sebagian besar berupa satu sel yang terlalu kecil untuk dapat dilihat menggunakan mata telanjang, mikroba berukuran sekitar 1μm – 5μm. Oleh karena itu mikroba hanya dapat dilihat dengan menggunakan alat bantu, yaitu mikroskop.
Mikroba dapat ditemui dimana-mana, di tanah, di air, di udara, makanan, miniman, maupun tanaman. Ada dua jenis mikroba dilihat dari manfaatnya, yaitu mikroba menguntungkan dan mikroba merugikan. Mikroba menguntungkan adalah mikroba pangan dan industri yang membantu manusia dalam pembuatan keju, yogurt, tempe, oncom, kecap, ragi, obat-obatan, dan sebagainya. Mikroba yang mengunungkan juga dapat membantu menghancurkan bahan organik seperti sampah-sampah organik sehingga mengurangi jumlah sampah dan bisa pula menjadi pupuk bagi tanaman. Tetapi mikroba merugikan juga tak sedikit jumlahnya, yaitu mikroba yang dapat menyebabkan berbagai penyakit pada manusia serta mikroba yang mengakibatkan basi atau kerusakan pada bahan makanan maupun minuman.

3. Alat dan Bahan
Alat:
 Baskom
 Alat tulis
Bahan:
 mamalime
 media yang telah diinokulasikan
 air bersih

4. Cara Kerja
1. Melakukan pengamatan setelah ± 4 hari diinokulasikan.
2. Menyiapkan media yang telah diinokulasikan untuk diidentifikasikan.
3. Menyiapkan alat tulis.
4. Mengamati tekstur koloni, dan apapun yang ada dalam media ( lendir, tekstur, warna )
5. Mencatat hasil pengamatan ke dalam bentuk tabel identifikasi berdasarkan asal biakan mikroba.

5. Hasil Pengamatan

Media Sumber Mikroba Keterangan
Apel Tanah lapangan 11. Tidak ada perubahan warna pada kentang, tidak berair, tidak berbau, tidah busuk, struktur tanah tetap, dan tak berbelatung.
12. Tidak ada perubahan warna pada kentang, tidak berair, tidak berbau, tidak busuk, struktur tanah tetap, dan tak berbelatung.
Tanah sampah  Kentang menjadi busuk, sangat berbau, berair, struktur tanah berubah menjadi lunak dan lebih gelap, tak berbelatung.
 Kentang menjadi busuk, sangat berbau, sangat berair, struktur tanah berubah menjadi lunak dan lebih gelap, tak berbelatung .
Tanah sawah  Kentang menjadi agak layu dan cokelat, tidak berbau, tidak berair, struktur tanah tidak berubah, tak berbelatung.
 Kentang menjadi cokelat, tidak berbau, tidak berair, struktur tanah tetap, tak berbelatung.
Kentang Tanah lapangan  Apel menjadi layu dan berwarna cokelat, agak lunak, tidak berbau, struktur tanah tetap, tak berbelatung.
 Sebagian daging buah apel menjadi layu dan berwarna cokelat, tidak berbau, struktur tanah tetap, tak berbelatung.
Tanah sampah  Apel menjadi busuk, lunak, sangat berair, sangat berbau, struktur tanah menjadi lunak, tak berbelatung.
 Apel menjadi busuk, lunak, sangat berair, sangat berbau, struktur tanah menjadi lunak, tak berbelatung.
Tanah sawah 5. Apel menjadi sangat layu, tak berbau, berair, struktur tanah lunak, tak berbelatung.
6. Apel menjadi sangat layu, tak berbau, berair, struktur tanah lunak, tak berbelatung

Media Apel

Medium Sumber Tekstur Warna Keterangan Jenis
Cawan Petri Tanah sawah  Berserabut
 Berlendir 5. Putih
6. Hijau  Berserabut sangat sedikit
 Berlendir tebal tetapi sedikit 5. Kapang
Tanah sampah  Berserabut
 Berlendir
 Berbintik  Putih  Berserabut sangat tipis
 Berlendir tebal
 Beruap sedikit
sifat koloni: h. sirkuler, tepi rata
elevasi: a.rata atau efuse  Kapang
 Bakteri
Tanah lapang 13. Berserabut
14. Berlendir  Putih
 Hitam 1. Berserabut banyak
2. Berlendir sedikit dan tipis
3. Beruap sedikit e) Kapang
Agar Tegak Tanah sawah 6. Berserabut 1. Putih Berserabut sangat sedikit
Tak berlendir
Tak beruap  Kapang
Tanah sampah  Berserabut
 Berlendir  Putih  Berserabut sangat sedikit
 Berlendir tebal
 Sedikit beruap  Kapang
Tanah lapang  Berserabut  Putih  Berserabut sedikit
 Tak berlendir
 Tak beruap  Kapang

Media Kentang

Medium Sumber Tekstur Warna Keterangan Jenis
Cawan Petri Tanah lapang  Berserabut
 Berlendir  Putih
 Hijau kehitaman  Berserabut banyak dan teratur
 Berlendir sedikit
 Tak berbintik
 Beruap sedikit  Kapang
Tanah sampah  Berserabut
 Berlendir
 Berbintik  Putih  Beruap sedikit
 Berserabut sedikit
 Berlendir banyak dan kental
 Berbintik banyak
Sifat koloni: i. Ireguler, tepi undulata
Elevasi: a. rata atau efuse  Kapang
 Bakteri
Tanah sawah 6. Berserabut
7. Berlendir
8. Berbintik  Putih  Beruap sedikit
 Berserabut tebal
 Berlendir tak banyak
 Berbintik sedikit
Sifat koloni: h. sirkuler, tepi rata
elevasi: a. rata atau efuse  Kapang
 Bakt
Agar Miring Tanah lapang 4) Berserabut
5) Berlendir
6) Berbintik  Putih  Tak beruap
 Berserabut sedikit
 Berlendir sedikit
 Berbintik banyak
Piaraan: beaded  Kapang
 Bakteri
Tanah sampah 4. Berserabut
5. Berlendir
6. Berbintik  Putih  Berserabut sedikit
 Berlendir banyak
 Berbintik banyak
 Tak beruap
Piaraan:Efus  Kapang
 Bakteri
Tanah sawah 5. Berlendir
6. Berbintik  Putih  Tak berserabut
 Tak beruap
 Berlendir sedikit
 Berbintik banyak
Piaraan: menyebar  Bakteri