PRAKTIKUM IMBIBISI

A. Waktu dan Tempat Percobaan
Waktu : 14.30 – 15.10 WIB
Tempat : Laboratorium Biologi UHAMKA

B. Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui prinsip kerja imbibisi pada kedelai dan karet gelang terhadap air dan minyak tanah.

C. Alat dan Bahan
1. Kacang kedelai 10 gram.
2. Karet gelang 10 gram.
3. Air.
4. Minyak tanah.
5. Tissue.
6. Beker gelas.
7. Stopwatch.
8. Alat tulis.

D. Cara Kerja
1. Membuat tabel pengamatan.
2. Menyiapkan empat beker gelas.
3. Memberi label pada beker gelas untuk menandai kacang kedelai dan karet gelang yang direndam dengan air dan yang direndam dengan minyak tanah.
4. Menimbang kacang kedelai dan karet gelang sebanyak 5 gram untuk dua beker gelas.
5. Memasukkan kacang kedelai dan karet gelang yang telah ditimbang ke dalam beker gelas yang telah diberi label.
6. Merendam kacang kedelai dan karet gelang dengan minyak tanah dan dengan air.
7. Membiarkan kacang kedelai dan karet yang direndam selama 30 menit.
8. Mengangkat kacang kedelai dan karet gelang dari masing-masing beker gelas setelah 30 menit, kemudian mengeringkannya sebelum ditimbang.
9. Menimbang kacang kedelai dan karet gelang yang telah dikeringkan.
10. Mencatat berat akhir kacang kedelai dan karet gelang masing-masing yang telah direndam dengan air dan dengan minyak tanah ke dalam tabel hasil pengamatan 1.

Tabel Pengamatan 1 ( Data Kelompok )
Bahan Berat Awal
( gram ) Berat Akhir ( gram )
Air Minyak Tanah
Kacang Kedelai
Karet Gelang

Tabel Pengamatan 2 ( Data Kelas )
Kelompok Kedelai Karet Gelang
Air
( gram ) Minyak Tanah
( gram ) Air
( gram ) Minyak Tanah
( gram )
1
2
3
4
5
6
7
8

E. Hasil dan Pembahasan
Tabel Pengamatan 1 ( Data Kelompok )
Bahan Berat Awal
( gram ) Berat Akhir ( gram )
Air Minyak
Kacang Kedelai 5 6,6 5,0
Karet Gelang 5 5,1 8,0

Tabel Pengamatan 2 ( Data Kelas )
Kelompok Kedelai Karet Gelang
Air
( gram ) Minyak Tanah
( gram ) Air
( gram ) Minyak Tanah
( gram )
1 7,0 5,2 5,0 8,3
2 8,8 5,0 5,0 7,6
3 6,8 5,0 5,0 8,5
4 6,6 5,0 5,0 8,5
5 6,6 5,0 5,1 8,0
6 6,6 5,0 5,0 7,9
7 6,7 5,1 4,7 8,3
8 7,3 5,0 5,0 7,9
Total 56,4 40,3 39,8 65,0
Rata-rata 7,05 5,04 4,98 8,12

Pada percobaan kali ini, proses imbibisi pada kacang kedelai dan karet gelang diketahui dengan cara perendaman. Dari tabel pengamatan 1 diketahui bahwa ternyata kacang kedelai berimbibisi dengan air dan karet gelang berimbibisi dengan minyak tanah. Kacang kedelai yang semula memiliki berat 5 gram bertambah beratnya menjadi 6,6 gram setelah direndam dengan air selama 30 menit, namun kacang kedelai tidak mengalami pertambahan berat setelah direndam dengan minyak tanah selama 30 menit juga. Begitupun dengan karet gelang yang semula memiliki berat 5 gram, bertambah beratnya menjadi 8,0 gram setelah direndam dengan ninyak tanah selama 30 menit dan hanya bertambah 0,1 gram setelah direndam dengan air selama 30 menit.
Terjadinya penambahan berat pada biji tersebut disebabkan karena biji masih aktif melakukan proses imbibisi, adanya tarikan dari senyawa higroskopik ( senyawa yang mampu menyerap air ) dari dalam biji menyebabkan air masuk melalui membran sel, yang kemudian menyebabkan terjadinya proses imbibisi. Senyawa higroskopik yang dimaksud adalah kristal karbohidrat ( amilum ) dan protein kering yang terdapat di dalam biji. Dan alasan mengapa kacang kedelai tidak bisa berimbibisi dengan minyak tanah, karena tidak terdapat kecocokan antara senyawa yang terkandung dalam kacang kedelai, karena senyawa higroskopik yang terdapat dalam kacang kedelai tidak dapat menyerap minyak tanah.
Hal yang sama terjadi pada karet gelang, karet gelang tidak mengembang setelah direndam dengan air karena tidak ada kecocokan antara senyawa yang terdapat dalam karet gelang dengan air, sehingga membran yang bersifat semipermeable tersebut tidak mengizinkan air untuk masuk ke dalam sel pertambahan berat sebanyak 0,1 gram terjadi mungkin karena kurangnya ketelitian saat menimbang atau masih ada sisa air pada karet gelang sehingga mempengaruhi berat karet tersebut. Sebaliknya, terdapat kecocokan antara kandungan zat yang terdapat pada karet gelang dengan minyak tanah sehingga karet gelang dapat berimbibisi dengan minyak tanah.
Untuk tabel pengamatan 2 merupakan data dari semua kelompok dalam kelas, berdasarkan tabel pengamatan tersebut didapat berat rata-rata kacang kedelai dan karet gelang setelah direndam dengan air dan dengan minyak tanah seama 30 menit. Untuk berat rata-rata kacang kedelai yang direndam dengan air adalah 7,05 gram dan yang direndam dengan minyak tanah adalah 5,04 gram, sedangkan untuk karet gelang yang direndam dengan air menunjukkan berat 4,98 gram dan yang direndam dengan minyak tanah menunjukkan berat 8,12 gram. Berkurangnya timbangan pada karet gelang setelah direndam dengan air merupakan kejanggalan, kejanggalan yang mungkin terjadi karena kurangnya ketelitian saat menimbang karet gelang tersebut sebelum direndam. Namun, pada dasarnya tabel tersebut menunjukkan berat rata-rata yang menyatakan bahwa kacang kedelai berimbibisi dengan air dan karet gelang berimbibisi dengan minyak tanah.

F. Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa kacang kedelai dapat berimbibisi dengan air, tidak dengan minyak tanah dan karet gelang berimbibisi dengan minyak tanah tidak dengan air. Hal tersebut karena kedelai dan karet gelang tersusun atas sel yang diselaputi oleh membran selektif permeable, yang artinya hanya zat-zat tertentu yang dapat masuk ke dalam sel tersebut. Untuk kedelai, terkandung senyawa higroskopik yang kemudian menarik air agar terserap ke dalam sel dan terjadilah proses imbibisi. Begitupun dengan karet gelang, membrannya menyeleksi zat-zat yang akan masuk dan minyak tanahlah yang terseleksi sehingga dapat masuk ke dalam sel.

PRAKTIKUM DIFUSI

A. Waktu dan Tempat Percobaan
Waktu : 14.30 – 15.10 WIB.
Tempat : Laboratorium Biologi UHAMKA.

B. Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui prinsip kerja difusi pada medium agar-agar.

C. Alat dan Bahan
1. Agar-agar.
2. Parafin.
3. Pewarna makanan.
4. Tusuk gigi.
5. Plastik.
6. Karet.

D. Cara Kerja
1. Menyiapkan agar-agar dalam gelas.
2. Memanaskan parafin.
3. Menuang lelehan parafin pada permukaan agar-agar, kemudian menggoyangkan gelasnya agar parafin tersebut merata ke seluruh permukaan agar kemudian mendiamkannya hingga parafin tersebut mengeras. Hal yang perlu diperhatikan adalah tidak boleh ada celah di antara parafin dan permukaan agar-agar tersebut.
4. Menusuk parafin tersebut dengan menggunakan tusuk gigi hingga mangenai ujung permukaan agar-agar.
5. Saat menusuk parafin, harus berhati-hati, jangan sampai merusak permukaan agar-agar karena akan menyebabkan kegagalan pada percobaan.
6. Meneteskan pewarna pada permukaan parafin yang dilubangi.
7. Menutup permukaan gelas tersebut dengan plastik dan mengikatnya dengan karet.
8. Mendiamkan wadah tersebut dan mengamati apa yang terjadi.
9. Mencatat hasil pengamatan.

E. Hasil dan Pembahasan

Pada percobaan kali ini, prinsip kerja difusi dapat diketahui dengan mengamati penyebaran partikel zat warna pada medium agar-agar. Setelah zat warna diteteskan ke parafin zat warna tersebut semakin menyebar setiap waktunya, pada awalnya zat warna tersebut menyebar ke pinggir media agar, lalu makin ke dalam dan terus menyebar hingga memenuhi pinggir agar-agar, setelah satu hari didiamkan, ternyata zat tersebut makin menyebar tak merata dan hampir memenuhi setengah bagian medium agar-agar. Hal itu merupakan kegagalan dari percobaan, kegagalan tersebut mungkin terjadi karena saat menusuk permukaan parafin, parafin tersebut retak, dan retaknya parafin tersebut ikut merusak permukaan agar-agar atau mungkin masih terdapat celah yang membatasi parafin dengan permukaan agar. Hal tersebut yang mengakibatkan zat tersebut menyebar ke segala arah, bukan ke arah di mana adanya hasil tusukkan dengan menggunakan tusuk gigi tersebut. Padahal, jika praktikum ini berhasil seharusnya zat warna tersebut menyebar membulat ke arah lubang yang dibentuk tusuk gigi tersebut.

parafin
Zat warna yang berdifusi
agar-agar

F. Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa difusi merupakan perpindahan zat dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah, hal ini dibuktikan dengan partikel-partikel zat warna yang terus menyebar dalam medium agar-agar sehingga medium agar-agar tersebut menjadi berwarna merah akibat partikel zat warna tersebut.