BUAYA MUARA ( Crocodylus porosus )

A. Pendahuluan
Buaya adalah reptil bertubuh besar yang hidup di air. Secara ilmiah, buaya meliputi seluruh spesies anggota suku Crocodylidae, termasuk pula buaya ikan ( Tomistoma schlegelii ). Meski demikian nama ini dapat pula dikenakan secara longgar untuk menyebut ‘buaya’ aligator, kaiman dan gavial, yakni kerabat-kerabat buaya yang berlainan suku.
Ciri-ciri fisik Buaya adalah panjang tubuh total maksimal mencapai 4 m, akan tetapi yang umum panjang buaya ini hanya sekitar 2–3 m. Terdapat gigi yang memanjang, nampak jelas di antara kedua matanya, keping tabular di kepala menaik dan menonjol di bagian belakangnya. Sisik-sisik besar di belakang kepala (post-occipital scutes) 2–4 buah. Terdapat sejumlah sisik-sisik kecil di belakang dubur, di bawah pangkal ekor. Sisik-sisik besar di punggung (dorsal scutes) tersusun dalam 6 lajur dan 16–17 baris sampai ke belakang. Sisik perut tersusun dalam 29–33 (rata-rata 31) baris. Warna punggung kebanyakan hijau tua kecoklatan, dengan belang ekor yang pada umumnya tidak utuh.Gigi-gigi buaya runcing dan tajam, amat berguna untuk memegangi mangsanya. Buaya menyerang mangsanya dengan cara menerkam sekaligus menggigit mangsanya itu, kemudian menariknya dengan kuat dan tiba-tiba ke air.
Buaya memiliki lebih dari 15 spesies dengan genus Crocodylus, salah satunya adalah Buaya Muara ( Crocodylus porosus ). Buaya muara dikenal sebagai buaya terbesar di dunia dan dapat mencapai panjang tujuh meter. Buaya ini dibedakan dengan buaya yang lain berdasarkan sisik belakang kepalanya yang kecil ataupun tidak ada, sisik dorsalnya berlunas pendek berjumlah 16-17 baris dari depan ke belakang biasanya 6-8 baris. Tubuhnya berwarna abu-abu atau hijau tua terutama pada yang dewasa pada sedangkan yang muda berwarna lebih kehijauan dengan bercak hitam, dan pada ekornya terdapat belang hitam dari bercak- bercak berwarna hitam.Saat bertelur, betina akan membuat sarang dari sampah tumbuhan, dan dedaunan. Buaya ini bertelur pada awal musim penghujan. Telur – telur ini akan terus dijaga oleh induk sampai menetas dan mereka dapat mencari makanan sendiri. Buaya jenis ini menempati habitat muara sungai. Kadang dijumpai di laut lepas. Makanan utamanya adalah ikan walaupun sering menyerang manusia dan babi hutan yang mendekati sungai untuk minum. Persebaran buaya ini hampir di seluruh perairan Indonesia.

B. Klasifikasi
• Kingdom : Animalia
• Phylum : Chordata
• Subphylum : Vertebrata
• Class : Reptilia
• Order : Crocodila
• Family : Crocodylidae
• Subfamily : Crocodylinae
• Genus : Crocodylus
• Species : Crocodylus porosus
C. Ciri Umum
Buaya muara ( Crocodylus porosus ) tidak memiliki lengkuk yang besar, sedangkan sisik punggungnya hanya dilapisi dengan sisik yang memanjang dari sudut depan mata sampai hidung. Hewan ini masih bisa bernafas, kendati mulutnya terbuka didalam air karena lubang hidung bagian luar terletak pada moncong yang menyembul di permukaan air. Spesies ini panjang tubuhnya bisa mencapai 10 m. Buaya muara tidak mempunyai pengait dikepala, tetapi mempunyai tonjolan yang berpasangan dan saling bertemu menuju ke hidung.
• Panjang tubuh 2 – 4 meter, namun ada juga yang mencapai 7 meter.
• Tubuhnya berwarna abu-abu atau hijau tua terutama pada yang dewasa pada sedangkan yang muda berwarna lebih kehijauan dengan bercak hitam.
• Memiliki gigi yang runcing dan tajam untuk mengoyak mangsanya.
• Pada ekornya terdapat belang hitam dari bercak- bercak berwarna hitam.
• Sisik belakang kepalanya yang kecil atau tidak ada.
• Sisik dorsalnya bertunas pendek berjumlah 16 – 17 baris dari depan dan ke belakang biasanya 6 – 8 baris.
• Memiliki ukuran yang lebih besar dibanding buaya air tawar yaitu pada rahang atas dan bawah serta ukuran gigi.
• Karnivora.
• Menempati habitat muara sungai.
• Merupakan hewan nocturnal, yaitu hewan yang aktif di malam hari.

D. Fisiologi

kepala tubuh ekor
Struktur tubuh buaya terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kepala, tubuh, dan ekor. Di bagian kepala terdapat mata, moncong, hidung, dan telinga. Di bagian tubuh ada 2 pasang kaki depan dan 2 pasang kaki belakang, bagian dorsal tubuh terdapat sisik berjumlah 16 – 17 baris sedangkan sisik ventral tersusun atas 29-31 baris sisik dan di bagian ekor terdapat ekor yang memanjang. Buaya merupakan hewan buas yang berdarah dingin atau poikilothermik, karena suhu tubuh buaya bergantung pada keadaan di lingkungannya.
Sistem organ pada buaya:
Anatomi buaya

 Sistem Pencernaan ( sistem digestive )
System pencernaan pada buaya terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan.
 Tractus Digestivum ( saluran pencernaan )
1. Rongga Mulut
Disokong oleh rahang atas dan rahang bawah, pada masing-masing rahang terdapat gigi-gigi yang berbentuk kerucut. Gigi menempel pada gusi dan sedikit melengkung ke arah rongga mulut. Gigi buaya bisa mengalami 50 kali pergantian, buaya tidak mengunyah makanannya, giginya hanya berfungsi sebgai penangkap mangsa. Pada rongga mulut terdapat lidah yang melekat pada tulang lidah dengan ujung bercabang dua. Buaya memiliki kelenjar mukoid yang sekretnya berfungsi agar rongga mulut tetap basah dan dapat dengan mudah menelan mangsanya.
2. Faring
3. Kerongkongan ( esofagus )
Merupakan saluran di belakang rongga mulut yang menyalurkan makanan dari rongga mulut ke lambung. Di dalam esophagus tidak terjadi proses pencernaan.
4. Lambung (ventrikulus)
Merupakan tempat penampungan makanan dan pencernaan makanan berupa saluran pencernaan yang membesar dibelakang esophagus. Disini makanan baru mengalami proses pencernaan. Pada bagian fundus pylorus makanan dicerna secara mekanik dan kimia.
5. Intestinum
Terdiri dari usus halus dan usus tebal yang bermuara pada anus. Dalam usus halus terjadi proses penyerapan dan sisanya menuju ke rectum, kemudian diteruskan ke kloaka untuk dibuang. Ukuran usus disesuaikan dengan bentuk tubuhnya.
6. Kloaka
 Glandula digestaria ( kelenjar pencernaan )
Terdiri dari hepar dan pancreas, empedu yang dihasilkan oleh hepar ditampung kantong yang disebut vesica fellea. Hepar terdiri atas 2 lobi, yaitu sinister dan dexter dan berwarna coklat kemerahan. Vesica fellea terletak pada tepi coudal lobus dexter hepatis. Pancreas terletak dalam suatu lengkung antara ventriculus dan duodenum. Ductus cysticus dari vesica fellea menuju jaringan pancreas bergabung dengan ductulli pancreatici, kemudian keluar menjadi satu ductus yang besar disebut hepato-pancreaticus atau ductus choledochus yang bermuara pada duodenum. Ventriculus terikat pada dinding tubuh dengan perantaraan suatu alat penggantung yang disebut mesogastrium. Kemudian alat penggantung instestinum tenue disebut mesenterium, alat penggantung intestinum crassum (rectum) disebut mesorectum. Antara permukaan dorsal hepar dan ventriculus terdapat suatu lipatan tipis yaitu omentum gastrohepaticum. Omentum ini memanjang ke caudal disebut omentum duodeno-hepaticum yang menghabungkan hepar dengan duodenum.
 Sistem Respirasi

Buaya bernapas dengan paru-paru. Pengambilan oksigen dan pengeluaran karbondioksida terjadi di dalam paru-paru. Keluar masuknya udara dari dan keluar paru-paru karena adanya gerakan-gerakan dari tulang rusuk. Saluran pernapasan terdiri dari lubang hidung, laring, trakea, bronkus dan paru-paru.
Buaya mempunyai trachea yang panjang dimana dindingnya dilengkapi oleh sejumlah cincin cartilago. Laring terletak di ujung anterior trachea. Dinding laring ini dilengkapi oleh cartilago cricoida dan cartilago anytenoidea.
Kearah posterior trachea membentuk percabangan (bifurcatio) menjadi bronchus kanan dan bronchus kiri, yang masing-masing menuju ke pulmo kanan dan pulmo kiri. Bentuk Pulmo lacertilia dan ophidia reptilia relatif sederhana.
 Sistem Ekskresi
Sistem ekskresi pada reptil berupa ginjal, paru-paru,kulit dan kloaka. Kloaka merupakan satu-satunya lubang untuk mengeluarkan zat-zat hasil metabolisme. Reptil yang hidup di darat sisa hasil metabolismenya berupa asam urat yang dikeluarkan dalam bentuk bahan setengah padat berwarna putih.

 Sistem Peredaran darah
Terdiri dari 2 atria, yaitu atrium dextrum dan sinistrum, 2 ventriculus yaitu ventriculus dexter serta ventriculus sinister, dan sinus venosus.
Atrium dextrum dipisah dengan atrium sinistrum oleh septum atriarum. Antara atrium dan ventriculus ada sekat yang disebut apertura atriovenricularis dengan katup valvula atrioventricularis.
Ventriculus dexter dipisah dari ventriculus sinister oleh septum ventriculorum ialah tidak sempurna sehingga darah di ventriculus dexter dan sinister untuk sebagian masih tercampur.
Dari ventriculus dexter keluar areus aortae sinister yang membelok ke kiri, dan arteria pulmanalis yang bercabang dua masing-masing ke pulmo. Dari ventruculus sinister keluar arcus aortae dexter yang membelok ke kanan dan mempercabangkan sebuah arteria yang berjalan ke arah cranial yaitu arteria carotis communis. Arteria carotis communis ini akan bercabang dua menjadi arteria carotis communis dexter dan sinister yang masing-masing baik dexter maupun sinister akan bercabang lagi menjadi arteria carotis externa dan interna.
Arteria carotis communis interna kiri akan membuat suatu hubungan dengan arcus aortae sinister. Arcus aortae dexter dan sinister, masing-masing berjalan ke caudal dan keduanya bertemu di medial untuk menjadi satu pembuluh yang besar disebut aorta dorsalis.
Sebelum kedua arcus aortae ini bertemu, arcus aortae dexter terlebih dulu mempercabangkan arteria esophagus yang menuju ke esophagus, kemudian juga mempercabangkan arteria subelavia dexta dan sinistra yang menuju ke extremitas anterior.
Sinus venosus menerima darah dari vanae besar, ialah vena cova superior dexta dan sinistra, dan vena cava inferior yang datang dari bagian caudal tubuh setelah menerima vena hepatica terlebih dulu. Dari sinus venosus darah kemudian menuju ke atrium dextrum. Yang masuk ke atrium sinistrum ialah vanae pulmonalis yang berisi darah arterial dari pulmo.
 Sistem Reproduksi

Jantan
Memiliki alat kelamin khusus : HEMIPENIS
Sepasang testis
Memiliki epididimis
Memiliki vas deferens
Betina
Memiliki sepasang ovarium
Memiliki saluran telur (oviduk)
Berakhir pada saluran kloaka
Buaya merupakan hewan reptil yang fertilisasinya terjadi di dalam tubuh (fertilisasi internal). Buaya bersifat ovipar, buaya betina menghasilkan ovum di dalam ovarium, ovum kemudian bergerak di sepanjang oviduk menuju kloaka. Buaya jantan menghasilkan sperma di dalam testis, sperma bergerak di sepanjang saluran yang langsung berhubungan dengan testis, yaitu epididimis. Dari epididimis sperma bergerak menuju vas deferens dan berakhir di hemipenis.
Hemipenis merupakan dua penis yang dihubungkan oleh satu testis yang dapat dibolak-balik seperti jari-jari pada sarung tangan karet. Pada saat buaya mengadakan kopulasi, hanya satu hemipenis saja yang dimasukkan ke dalam saluran kelamin betina.
Ovum buaya betina yang telah dibuahi sperma akan melalui oviduk dan pada saat melalui oviduk, ovum yang telah dibuahi akan dikelilingi oleh cangkang yang tahan air. Hal ini akan mengatasi persoalan setelah telur diletakkan dalam lingkungan basah. Pada kebanyakan jenis buaya, telur ditanam dalam tempat yang hangat dan ditinggalkan oleh induknya. Dalam telur terdapat persediaan kuning telur yang berlimpah, Buaya melewatkan sebagian besar hidupnya di dalam air. Namun mereka akan kembali ke daratan ketika meletakkan telurnya.
• Sistem Gerak
• Rangka
Rangka pada buaya terdiri dari rangka pada bagian kepala, tubuh, dan ekor. Tulang-tulang yang menyusunnya antara lain: Tengkorak, tulang punggung, tulang sacrum, tulang ekor, tulang leher, tulang selangka, tulang belikat, tulang jari-jari, tulang pinggang, tulang paha, dan tulang telapak kaki.

• Cara Bergerak
Buaya dapat bergerak di darat dan di air, di darat mereka berjalan pelan dengan menyeret ekor mereka di tanah atau mengangkat tubuh dan ekor mereka di atas tanah dan berjalan dengan jari-jari kaki mereka. Dengan berjalan tinggi, mereka dapat berjalan lebih cepat walau dalam jarak dekat dan hanya dapat lurus karena mereka cepat merasa lelah.
Buaya juga dapat berenang, mereka mengguanakan ekor mereka yang panjang dan berotot untuk menggerakan tubuh di air, saat mereka berenang mereka merapatkan kaki mereka ke sisi tubuhnya agar mudah meluncur dalam air. Mereka juga dapat mengapung di air dengan mata dan hidung di atas permukaan air. Mereka dapat bertahan selama beberapa menit, namun ada beberapa spesies yang mampu bertahan selama 5 jam, contohnya buaya muara ( Crocodylus porosus ).
cara buaya berjalan tinggi
• Sistem Indera
Buaya memiliki indera yang luar biasa yang digunakan untuk mendeteksi mangsa, mereka mempunyai indera khusus yang memungkinkan mereka untuk mendeteksi mangsa di dalam air. Sensor-sensor kecil menyebar di daerah wajah dan khususnya di sekitar mulut, yang bias mendeteksi getaran sekecil apapun. Mata buaya memiliki tiga kelopak mata, kelopak mata yang ketiga transparan dan menutup mata untuk melindunginya saat mereka di dalam air. Pupil matana tegak seperti kucing sehingga mereka dapat melihat dengan tajam, namun penglihatan mereka agak kurang jelas jika di dalam air.

E. Peranan
1. Gigi Buaya
Kalung gigi buaya adalah salah satu souvenir yang bisa diperoleh dari Nabire. Selain itu masih banyak souvenir lain yang menarik dan unik sebagai kenang-kenangan khas daerah ini. Meski jauh dari kesan mewah, dari segi keunikan dan kelangkaan, beberapa kerajinan ini dapat dikoleksi atau menjadi hiasan bercorak natural dan kultural yang dapat menghiasi rumah kita.
Contoh: Kalung Gigi Buaya dari Nabire
2. Daging Buaya
Ada beberapa orang yang suka mengkonsumsi daging buaya. Biasanya daging Buaya itu sebelum dimakan dipanggang terlebih dahulu atau dimasak seperti daging lainnya.
Contoh: “frozen fresh crocodile meat”, daging buaya penangkaran.
3. Tangkur dan Empedu
Tangkur dan empedu Buaya dimanfaatkan untuk pengobatan. Biasanya didunakan oleh Pengobatan Cina.
Contoh: Di Penangkaran Buaya Balikpapan
4. Minyak dan Kerupuk
Minyak Buaya dimanfaatkan untuk mengobati penyakit kulit dan gatal-gatal. Kerupuk Buaya Dimanfaatkan untuk dikoonsumsi yang katanya rasanya sangat gurih
5. Kulit Buaya
Biasanya jadi bahan untuk pengrajin seperti Tas, Dompet, dan Sabuk dari kulit buaya