METODOLOGI PENELITIAN BIOLOGI
(MASALAH PENELITIAN)

Disusun Oleh:
Ani Rohayati ( 0801145006 )
Aries Tia Dewi ( 0801145068 )
Miatun Natasya ( 0801145046 )

FAKULTAS: FKIP
PRODI: BIOLOGI 6B

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR.HAMKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN BIOLOGI
2011
BAB I
PENDAHULUAN

Penelitian bagi mahasiswa merupakan salah satu keterampilan yang harus dimiliki sebagai salah satu prasyarat bagi peningkatan kualitas pendidikannya. Selama mengikuti kegiatan pendidikan, mahasiswa dituntut terampil menghasilkan karya tulis berupa makalah, laporan buku, tesis atau disertasi. Semua karya ilmiah tersebut berdasarkan hasil penelitian.
Karya ilmiah merupakan penyampaian informasi faktual terhadap suatu masalah yang disusun secara tertulis menurut ketentuan yang berlaku di dalam suatu lembaga. Dalam penulisan suatu karya ilmiah terdapat permasalahan-permasalahan yang akan dibahas diawali dengan sesuatu persoalan.
Dalam segala lapangan kita dapat menemukan permasalahan ilmiah yang harus diatasi. Tidak jarang suatu penelitian membuka jalan lain yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Perkembangan peradaban manusia serta perubahan ilmu pengetahuan menjadi samudera yang penuh dengan masalah. Akan tetapi, tidak semua orang dapat melihat dan menyadari adanya masalah. Kebanyakan peneliti berpendapat bahwa menentukan masalah adalah langkah yang paling pelik dari seluruh proses penelitian. Sebab utama dari kekurangan ini terletak pada rendahnya penguasaan lapangan.
Masalah adalah setiap kesulitan yang menggerakkan manusia untuk memecahkannya. Masalah harus diangap sebagai tantangan yang harus diatasi. Oleh karena itu, masalah yang benar-benar dapat ditangani melalui penelitian adalah yang penting dan dapat menghasilkan penyelesaian yang bermanfaat. Dalam makalah ini akan dibahas beberapa masalah dalam penelitian, khususnya adalah penulisan masalah dalam penelitian pada sebuah karya ilmiah.

BAB II
PEMBAHASAN

Pemilihan dan perumusan masalah adalah salah satu aspek yang paling penting dalam pelaksanaan penelitian bidang apa saja. Penelitian tidak dapat dilakukan sebelum suatu masalah diidentifikasi, dipikirkan secara tuntas, dan dirumuskan dengan baik.
Seorang peneliti mula-mula harus menentukan pokok persoalan penyelidikan yang bersifat umum, kemudian pokok persoalan tersebut dipersempit sampai menjadi persoalan yang sangat khusus. Peneliti harus menentukan pertanyaan yang harus dijawab dan harus menyatakan dengan tepat apa yang dilakukan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan itu.
Dalam menentukan masalah penelitian, setelah suatu masalah dipilih dan pertanyaan dapat dirumuskan dengan jelas, maka selesailah salah satu tahap yang paling sulit dalam proses penelitian.
2.1 Pengertian
2.1.1Penelitian
Penelitian dapat diartikan sebagai cara pengamatan atau inkuiri dan mempunyai tujuan untuk mencari jawaban permasalahan atau proses penemuan, baik discovery maupun invention. Discovery diartikan sebagai hasil penemuan yang sebetulnya memang sudah ada. Invention dapat diartikan sebagai penemuan hasil penelitian yang betul-betul baru dengan dukungan fakta.
1. David H Penny
Penelitian adalah pemikiran yang sistematis mengenai berbagai jenis masalah yang pemecahannya memerlukan pengumpulan dan penafsiran fakta-fakta.
2. Mohammad Ali
Penelitian adalah suatu cara untuk memahami sesuatu melalui penyelidikan atau usaha mencari bukti-bukti yang muncul sehubungan dengan masalah itu, yang dilakukan secara hati-hati sekali sehingga diperoleh pemecahannya.
Penelitian menurut kelompok kami adalah suatu usaha penyelidikan untuk memperoleh informasi yang benar secara sistematis.

2.1.2 Masalah
Masalah adalah setiap kesulitan yang menggerakkan manusia untuk memecahkannya. John Dewey dan Kerlinger memberikan pengertian tentang permasalahan penelitian, diantaranya :
a. Dapat berupa kesenjangan (discrepancy) antara sesuatu yang diharapkan dan kenyataan yang ada.
b. Secara faktual dapat berupa kesulitan yang dirasakan oleh orang awam maupun para peneliti.
c. Sesuatu yang dijadikan target yang telah ditetapkan peneliti, tetapi target tersebut tidak tercapai.
Masalah adalah suatu kendala atau persoalan yang harus dipecahkan dengan kata lain masalah merupakan kesenjangan antara kenyataan dengan suatu yang diharapkan dengan baik, agar tercapai tujuan dengan hasil yang maksimal.
Masalah menurut kelompok kami adalah suatu persoalan yang berbeda dari kenyataan yang diharapkan.

2.2 Kriteria dalam Menetapkan Masalah
Setelah masalah yang akan diteliti itu ditentukan (variabel apa saja yang akan diteliti, dan bagaimana hubungan variabel satu dengan yang lain), dan supaya masalah dapat terjawab secara akurat, maka masalah yang akan diteliti itu perlu dirumuskan secara spesifik. Perumusan masalah merupakan pemetaan faktor-faktor dan variabel-variabel yang terkait. Kualitas suatu penelitian tidak cukup dipertimbangkan berdasarkan kriteria-kriteria sebagaimana diuraikan sebelumnya. Kualitas suatu penelitian juga ditentukan oleh bagaimana masalah penelitian tersebut dirumuskan.
Untuk penetapan masalah dalam penyelidikan diperlukan beberapa faktor pertimbangan, yaitu faktor luar peneliti dari faktor dalam peneliti di antaranya sebagai berikut:
a. Apakah masalah ini berguna untuk dipecahkan?
Peneliti menyelidiki terlebih dahulu apakah pemecahan masalah tersebut akan membawa sesuatu yang berguna, berarti, dan penting. Ada dua manfaat yang perlu diperhatikan dalam mengidentifikasi masalah, yaitu manfaat teoretis dan manfaat praktis. Manfaat teoretis berkait erat dengan pengembangan ilmu pengetahuan, sedang manfaat praktis adalah manfaat yang lansung dapat digunakan atau dirasakan praktisi atau masyarakat, seperti guru, siswa, kepala sekolah, serta para pengelola.
b. Apakah masalah dapat diteliti?
Permasalahan dapat dikatakan dapat diteliti atau researchable apabila masalah tersebut dapat diungkap kejelasannya melalui tindakan pengumpulan data dan dianalisis.
c. Apakah terdapat kemampuan yang dipunyai peneliti untuk pemecahan masalah ini?
Untuk menyelesaikan masalah diperlukan cara-cara penyelidikan yang khusus. Peneliti perlu bertanya pada diri sendiri cara-cara yang bagaimanakah yang sebaiknya digunakan untuk pemecahan masalah tertentu.
d. Apakah masalah itu sendiri menarik untuk dipecahkan?
Masalah yang beranekaragam beraneka pula tingkat kesulitannya. Peneliti harus menemukan motif yang cukup kuat yang menyebabkan peneliti tertarik pada masalah tersebut.
e. Apakah masalah ini memberikan sesuatu yang baru?
Diperlukan pengetahuan yang luas untuk dapat mengetahui apakah dengan penemuan masalah itu berarti pula ditemukannya sesuatu yang baru bagi dunia pengetahuan.
f. Apakah masalah itu terbatas hingga jelas?
Masalah yang ditentukan haruslah khas (spesifik) dan sedemikian rupa seperti yang kuasakan oleh ilmu yang ada.

2.2.1 Masalah yang Baik untuk Diteliti
Masalah yang baik untuk diteliti adalah sebagai berikut :
1. Masalah yang tepat diteliti yaitu masalah yang dihadapkan pada suatu kebutuhan atau tantangan bagi peneliti.
2. Masalah mudah dirumuskan sehingga menjadi jelas batasannya, kedudukan dan alternatif cara pemecahannya.
3. Memiliki hipotesis yang jelas sebagai titik tolak dalam penelitian dan alternatif pemecahannya.
4. Mudah dalam pengumpulan data untuk menguji hipotesis.
5. Mudah dalam menarik kesimpulan berdasarkan hasil pengolahan data dan dikembalikan pada jawaban hipotesis yang sudah dirumuskan.Dapat memecahkan masalah yang diteliti sehingga dapat menemukan kebenaran serta implikasinya untuk memberi saran-saran agar masa depan lebih baik.
2.2.2 Ciri-ciri Pernyataan Masalah Penelitian yang baik:
1. Masalah yang dipilih harus mempunya nilai penelitian
a. Masalah harus mempunyai keaslian.
b. Masalah harus menyatakan suatu hubungan.
c. Masalah harus merupakan hal yang penting.
d. Masalah harus dapat di uji.
e. Masalah harus mencerminkan suatu pertanyaan.
2. Masalah yang dipilih dengan bijak, artinya :
a. Data serta metode untuk memecahkan masalah harus tersedia.
b. Biaya untuk memecahkan masalah, secara relatif harus dalam batas-batas kemampuan.
c. Waktu memecahkan masalah harus wajar.
d. Biaya dan hasil harus seimbang.
e. Administrasi dan sponsor harus kuat.
f. Tidak bertentangan dengan hukum dan adat.
3. Masalah dipilih dengan kualifikasi peneliti
a. Menarik bagi peneliti
b. Masalah harus sesuai dengan kualifikasi peneliti
2.3 Sumber Masalah Penelitian
Beberapa sumber masalah penelitian dapat dijadikan sebagai bahan untuk memperoleh ide atau penentuan masalah penelitian. Beberapa sumber masalah tersebut diantaranya adalah :
a. Bacaan
Bacaan yang dapat dijadikan sumber masalah adalah buku. Buku yang memuat generalisasi dari teori-teori. Teori ini menjadi sumber masalah yang akan membuktikan kebenarannya melalui penelitian secara empiris.
b. Pertemuan Ilmiah
Masalah yang dapat diperoleh melalui pertemuan ilmiah misalnya diskusi, seminar, lokakarya, dan konferensi. Dari pertemuan ilmiah tersebut dapat muncul berbagai ide penelitian dan masalah aktual, yang memerlukan pemecahan melalui penelitian.
c. Laporan Hasil Penelitian
Banyak institusi yang memiliki lembaga penelitian atau perpustakaan sebagai sumber informasi dari penelitian yang telah dilakukan oleh institusi tersebut. Disamping itu jurnal-jurnal penelitian merupakan laporan hasil-hasil penelitian yang mutakhir yang dapat dijadikan sumber masalah penelitian. Melalui internet, informasi mengenai materi penelitian dalam jurnaal dapat dengan mudah didapat.
d. Pernyataan Pemegang Kekuasaan
Orang yang memiliki otoritas ilmu, yaitu yang memiliki kepakaran, komitmen, dan kekonsistenan atas suatu ilmu. Orang yang memiliki otoritas ini menjadi figur atau anutan orang-orang yang memiliki ilmu di bawahnya. Pemegang otoritas ini dapat bersifat formal, contohnya guru besar. Sedangkan yang bersifat nonformal yaitu tokoh masyarakat atau figur masyarakat.pernyataan para pemegang otoritas ini dapat dijadikan permasalahan dan dibuktikan kebenarannya melalui penelitian.
e. Pengamatan
Pengamatan yang dilakukan secara tidak direncanakan atau secara sepintas dapat melahirkan permasalahan yang sangat kaya. Seseorang dapat mengenal kondisi aktual di lapangan yang dapat dijadikan permasalahan penelitian yang berguna untuk diimplementasikan sesuai dengan keadaan terkini.
f. Pengalaman Individual atau Kelompok
Pengalaman seseorang atau sekelompok orang yang didapat sepanjang waktu tertentu dapat memunculkan permasalahan yang dapat diidentifikasi sebagai permasalahan penelitian. Seseorang akan mengenali suatu permasalahan dari aktivitas rutin dan intensif.
2.4 Merumuskan Masalah Penelitian
Rumuan masalah merupakan penuntun bagi langkah-langkah yang akan dilakukan peneliti dalam kegiatan penelitiannya. Masalah harus dirumuskan secara jelas sehingga peneliti menegetahui secara tepat variabel apa yang akan diukur dan apakah ada alat ukur yang sesuai untuk memecahkan masalah penelitian.
Beberapa syarat perumusan atau pertanyaan masalah penelitian diutarakan Jack R. Fraenkel dan Norman E. Wallen, yaitu harus feasiable, yaitu memungkinkan untuk diteliti, harus clear artinya rumusan masalah harus ditulis dalam kalimat yang jelas sederhana, dan maknanya dapat dimengerti oleh sebagian masyarakat, harus significant, maksudnya adalah penelitian harus memeberikan sumbangan yang berarti bagi pengetahuan, harus ethic, artinya permasalahan harus dapat dipecahkan tanpa merusak atau membahayakan manusia atau lingkungan alam.
Ada beberapa pendapat tentang bentuk rumusan permasalahan, pendapat Yatim Riyanto sebagai berikut :
a. Rumusan masalah hendaknya singkat dan bermakna. Masalah perlu dirumuskan dengan singkat dan padat, tidak berbelit-belit, dinyatakan dengan kalimat yang pendek tetapi jelas dan tidak bermakna ganda.
b. Rumusan masalah hendaknya dalam bentuk kalimat tanya. Masalah akan lebih tepat apabila dirumuskan dalam bentuk kalimat pertanyaan, bukan dengan pernyataan. Dengan kalimat tanya, peneliti dipandu untuk menemukan jawabannya melalui penelitian.
c. Rumusan masalah harus jelas dan konkrit. Ini akan memungkinkan peneliti secara eksplisit dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan: apa yang diselidiki, siapa, mengapa, bagaimana pelaksanaannya bagaimana melakukannya, dan apa tujuan yang diharapkan.
d. Masalah dirumuskan secara operasional. Memungkinkan peneliti memahami variabel dan subvariabel yang ada dalam penelitian dan bagaimana mengukurnya.
e. Rumusan masalah hendaknya mampu memberikan petunjuk tentang memungkinkannya pengumpulan data di lapangan untuk menjawab pertanyaan yang terkandung dalam penelitian tersebut.
f. Penulisan masalah harus dibatasi, sehingga memungkinkan penarikan kesimpulan yang tegas.
2.4.1 Cara Perumusan Masalah
1. Menguraikan masalah utama sesuai dengan latar belakang penelitian dan judul penelitian. Alangkah baiknya apabila peneliti mampu membuat definisi atau rumusan masalah.
2. Menyusun masalah yang akan diteliti yang dijadikan fokus atau pokok-pokok penelitian sesuai dengan urutan judul penelitian.
3. Setiap pokok penelitian erat hubungannya dengan variabel yang diteliti, serta kaitan antara variabel yang satu dengan variabel yang lainnya secara rasional dan proporsional.
4. Pokok-pokok yang akan diteliti diungkapkan berbentuk kalimat tanya.
5. Setiap pokok penelitian merupakan definisi operasional variabel.
6. Setiap variabel yang diteliti harus jelas menggambarkan objek yang diteliti.
7. Dari setiap indikator yang diteliti harus disesuaikan dengan jenis instrumen penelitian yang bisa mengungkap masalah yang dicari jawabannya.
8. Jawaban penelitian sesuai dengan jenis penelitian apakah penelitian kualitatif atau penelitian kuantitatif.

2.4.2 Fungsi Perumusan Masalah
Perumusan masalah memiliki fungsi sebagai berikut yaitu Fungsi pertama adalah sebagai pendorong suatu kegiatan penelitian menjadi diadakan atau dengan kata lain berfungsi sebagai penyebab kegiatan penelitian itu menjadi ada dan dapat dilakukan. Fungsi kedua, adalah sebagai pedoman, penentu arah atau fokus dari suatu penelitian. Perumusan masalah ini tidak berharga mati, akan tetapi dapat berkembang dan berubah setelah peneliti sampai di lapangan. Fungsi ketiga dari perumusan masalah, adalah sebagai penentu jenis data macam apa yang perlu dan harus dikumpulkan oleh peneliti, serta jenis data apa yang tidak perlu dan harus disisihkan oleh peneliti. Keputusan memilih data mana yang perlu dan data mana yang tidak perlu dapat dilakukan peneliti, karena melalui perumusan masalah peneliti menjadi tahu mengenai data yang bagaimana yang relevan dan data yang bagaimana yang tidak relevan bagi kegiatan penelitiannya. Sedangkan fungsi keempat dari suatu perumusan masalah adalah dengan adanya perumusan masalah penelitian, maka para peneliti menjadi dapat dipermudah di dalam menentukan siapa yang akan menjadi populasi dan sampel penelitian.

2.4.3 Penempatan Rumusan Masalah
Berkenaan dengan penempatan rumusan masalah penelitian, didapati beberapa variasi, antara lain (1) Ada yang menempatkannya di bagian paling awal dari suatu sistematika peneliti, (2) Ada yang menempatkan setelah latar belakang atau bersama-sama dengan latar belakang penelitian dan (3) Ada pula yang menempatkannya setelah tujuan penelitian.
Di manapun rumusan masalah penelitian ditempatkan, sebenarnya tidak terlalu penting dan tidak akan mengganggu kegiatan penelitian yang bersangkutan, karena yang penting adalah bagaimana kegiatan penelitian itu dilakukan dengan memperhatikan rumusan masalah sebagai pengarah dari kegiatan penelitiannya. Artinya, kegiatan penelitian yang dilakukan oleh siapapun, hendaknya memiliki sifat yang konsisten dengan judul dan perumusan masalah yang ada. Kesimpulan yang didapat dari suatu kegiatan penelitian, hendaknya kembali mengacu pada judul dan permasalahan penelitian yang telah dirumuskan.

BAB III
PENUTUP

Suatu masalah hendaknya merupakan masalah yang pemecahannya akan memberikan sumbangan kepada pembangunan pengetahuan di bidang pendidikan. Peneliti sebaiknya dapat menunjukkan bahwa studi tersebut dapat mengisi kekosongan dalam pengetahuan yang ada, atau membantu memecahkan sebagian ketiadak-mantapan yang terdapat dalam penelitian sebelumnya. Dan permasalahan itu hendaknya merupakan permasalahan yang akan membawa kita kepada permasalahan-permasalahan baru, dan dengan demikian juga kepada penelitian-penelitian berikutnya. Karena suatu penelitian yang baik adalah disamping memperoleh suatu jawaban suatu permasalahan, biasanya juga menyebabkan timbulnya sejumlah permasalahan lain yang memerlukan permasalahan.
Hal dalam menetapkan masalah suatu penyelidikan, diperlukan beberapa faktor pertimbangan, yaitu faktor luar peneliti dari faktor dalam peneliti di antaranya dalam kriteria penetapan masalah, yaitu suatu masalah dapat berguna untuk dipecahkan, suatu masalah dapat diteliti, terdapat kemampuan yang dipunyai peneliti untuk pemecahan suatu masalah, suatu masalah itu menarik untuk dipecahkan, suatu masalah dapat memberikan sesuatu yang baru, dan suatu masalah terbatas hingga jelas. Dan dalam kaitannya dengan kriteria ini, diharapkan para mahasiswa dapat mempelajari suatu penelitian yang dapat mempertimbangkan suatu masalah yang mugkin akan dapat diperluas atau dilanjutkan nantinya dalam studi berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Syamsuddin, A.R dan Vismaia, S. 2006. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
http://www.google.com/ Perumusan Masalah yang Baik. Diakses pada tanggal 26-03-2011.html.