A. LATAR BELAKANG MUNCULNYA BK DI SEKOLAH

Traxler mengidentifikasi adanya 5 faktor yang melahirkan bimbingan di sekolah,

1). Philanthropy dan Humanisme
Kedua aliran ini mempunyai keyakinan bahwa masyarakat yang miskin dapat dikembangkan melalui bimbingan pekerjaan, agar pengangguran dapat dihapuskan. Mereka berpandangan bahwa sekolah adalah tempat yang baik untuk memberikan bimbingan pekerjaan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dari bimbingan pekerjaan berkembanglah bimbingan pendidikan dan bimbingan sosial pribadi di sekolah. Sampai sekarang bimbingan pekerjaan mengarah pada menjadikan sekolah sebagai pusat pengembangan tenaga kerja.

2). Gerakan Agama
Kaum beragama beranggapan bahwa didunia ini terdapat pertentangan yang tetap antara kekuatan golongan yang baik dan kekuatan golongan yang jahat. Karena itu sekolah harus mempersiapakan kaum muda untuk menghadapi kekuatan yang jahat ini melalui pembinaan kehidupan moral mereka. Alasan inilah yang mendorong adanya bimbingan disekolah, khususnya bimbingan yang berkaitan dengan kehidupan moral.

3). Mental Hygiene
Tahun 1909 di Amerika serikat lahir Komite Nasional Kesehatan Mental. Gerakan ini memusatkan perhatiannya pada penelitian , terapi, dan rehabilitasi terhadap para anggota masyarakat yang menderita gangguan mental yang serius. Mengingat banyak gangguan jiwa dapat diterapi dengan baik bila diketahui sejak dini. Para ahli kesehatan mental menganjurkan para pendidik disekolah untuk lebih banyak berperan dalam memperhatikan kesehatan jiwa para siswa, khususnya yang berkaitan dengan rasa aman dan penemuan identitas diri dikalangan kaum muda. Dengan demikian, bimbingan akan mempunyai andil besar dalam perkembangan kesehatan mental para siswa disekolah.

4). Gerakan Untuk Mengenal Murid Secara Individual
Traxler mengatakan bahwa gerakan ini sangat berkaitan dengan sejarah gerakan dan evaluasi pendidikan disekolah. Melalui gerakan ini ditemukan suatu nilai mengenai siswa sebagai pribadi yang individual dan unik. Oleh karena itu bimbingan disekolah mempunyai tugas untuk mengenal setiap muridnya secara individual melalui program analisis individual.

5). Perubahan-perubahan Sosial
Dizon (1983) mengungkapkan 5 perubahan sosial yang sangat mempengaruhi kehidupan para remaja.
a. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Pilihan karir merupakan masalah bagi banyak siswa. Mereka sering merasa bingung untuk menentukan pilihan karir yang tepat, karena yang dapat dipilih cukup banyak dan umumnya mereka belum mengenal dirinya sendiri. Dipihak lain, orangtua dan sekolah tidak dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan anak, karena mereka tidak memahami bimbingan karier. Akibatnya banyak ditemukan beberapa mahasiswa dengan indeks prestasi rendah, walaupun kemampuannya cukup tinggi. Hal ini disebabkan ketidaksesuaian minat mereka dengan jurusan yang mereka pilih. Para remaja bingung terhadap pilihan karirnya dan tidak mendapat bantuan yang baik dari pihak sekolah ataupun orang tua. Untunglah, beberapa sekolah telah mengadakan bimbingan karir yang dapat meringankan beban mereka.

b. Penggunaan waktu senggang dan Rekreasi
Mereka umumnya menghadapi konflik batin, karena di satu pihak mereka harus belajar keras untuk memenuhi tuntutan sekolah yang makin berat, sedangkan di pihak lain mereka tergiur akan hiburan yang menarik di masyarakatnya. Hiburan ini seringkali dapat memerosotkan perkembangan mereka yang dalam waktu singkat harus terjun dalam dunia kerja dan sosial. Dalam hal ini sekolah harus berani mulai mengadakan bimbingan rekreasi bagi para siswanya, khususnya pada waktu liburan sekolah. Pertandingan antarsekolah, festival seni, kemah kerja dapat digalakan di antara para pelajar dan mahasiswa.

c. Pola kehidupan keluarga dalam masyarakat modern telah mengalami banyak perubahan
Tidaklah mengherankan bahwa karena kesibukan orang tua mengakibatkan kurangnya komunikasi personal. Karena mereka kurang menikmati waktu bersama dalam keluarga. Anak-anak merasa kurang nyaman dan aman dirumah sendiri. Karena itu, pelayana bimbingan konseling berupa konsultasi bagi orang tua dan konseling bagi anak-anak yang tersisih dalam keluarga. Untuk itu bimbingan ini diharapkan dapat terlaksana disekolah.

d. Perubahan nilai-nilai sosial dan moral/agama
Para remaja tidak memiliki pegangan hidup yang pasti. Nilai lama sudah kabur, sedangkan nilai baru belum pasti. Free-sex dipandang hal yang lumrah bagi golongan remaja tertentu, sedangkan di pihak lain keluarga dan agama masih keras melarangnya. Dikalangan mahasiswa terjangkit penyakit “cepat wisuda”, agar mereka mendapatkan kedudukan dan gaji yang tinggi, tetapi yang diimpikan tidak mudah terlaksana. Semuanya ini tentu akan menambah masalah dipundak para remaja. Untuk itu mereka membutuhkan bimbingan spiritual agar mereka bisa berfikir dengan baik dan berbuat sesuai dengan norma-norma agama yang berlaku di lingkungan masyarakat.

e. Tuntutan masyarakat yang makin kompleks
Pada waktu sekarang gelar “Drs.” Tidak menjadi “bangsawannya” masyarakat lagi, tetapi gelar “doktor” barulah dipandang sebagai bangsawan atau priyayinya masyarakat modern ini. Hal ini menunjukan bahwa tuntutan masyarakat makin berat dan meningkat. Disinalah letak panggilan kita, melalui program bimbingan kita tingkatkan perkembangan anak seoptimal mungkin sesuai dengan tuntutan masyarakat modern.

B. LATAR BELAKANG SOSIO KULTURAL

Sebagai makhluk sosial manusia tidak pernah hidup sendiri. Dimanapun manusia selalu hidup berkelompok terdiri dari sejumlah anggota guna menjamin baik keselamatan, perkembangan maupun keturunan. Dalam kehidupan berkelompok itu manusia harus mengembangkan ketentuan yang mengatur hak dan kewajiban individu sebagai anggota demi ketertiban pergaulan sosial mereka. Ketentuan-ketentuan itu biasanya berupa perangkat nilai, norma sosial maupun pandangan hidup yang terpadu dalam sistem budaya yang berfungsi sebagai rujukan hidup. Rujukan itu melebihi proses belajar, diwariskan kepada generasi penerus yang akan melestarikannya. Karena itu masyarakat dan kebudayaan sesungguhnya merupakan dua sisi dari satu mata uang yang sama (Budhi santoso,1992), yaitu generasi tua sebagai pewaris dan generasi muda sebagai penerus.
Landasan sosial budaya yang mengingatkan bahwa bimbingan dan konseling yang hendak dikembangkan adalah bimbingan untuk seluruh rakyat Indonesia dengan kebinekaan budayanya. Oleh sebab itu pelayanan bimbingan dan konseling seyogianya tidak disamaratakan untuk semua klien dari latar belakang sosial yang berbeda. Konselor indonesia tetap menghargai dan mempertimbangkan latar belakang sub-kultur klien sebagai sesuatu yang penting.

C.LATAR BELAKANG PSIKOLOGIS
Psikologi merupakan kajian tentang tingkah laku individu. Landasan psikologis dalam bimbingan dan konseling bearti memberikan pemahaman tentang tingkah laku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). Hal ini sangat penting karena bidang garapan bimbingan dan konseling adlah tingkah laku klien, yaitu tingkah laku klien yang perlu diubah atau dikembangkan apabila ia hendak mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya atau ingin mencapai tujuan-tujuan yang dikehendakinya.
Untuk keperluan bimbingan dan konseling sejumlah daerah kajian dalam bidang psikologi perlu dikuasai yaitu tentang:
1).Motif dan Motivasi
Motif adalah dorongan yang menggerakan seseorang bertingkah laku. Ada 2 penggolongan motif, motif yang bersifat primer yang didasari oleh ebutuhan asli yang sejak semula telah ada pada diri setiap individu sejak ia lahir ke dunia (kebutuhan untuk mernghilangkan rasa lapar dan haus, kebutuhan akan udara bersih), dan motif yang bersifat sekunder yang tidak dibawa sejak lahir, melainkan terbentuk bersamaan dengan proses perkembangan individu yang bersangkutan(berkembang karena adanya proses belajar.
Motivasi adalah motif yang sedang aktif. Kekuatannya dapat meningkat sampai pada taraf yang lebih tinggi.
2).pembawaan dan lingkungan
Dalam artinya yang luas pembawaan meliputi berbagai hal, seperti warna kulit, bentuk dan warna rambut, golongan darah, minat,bakat khusus dan kecerdasan. Untuk dapat tumbuh dan berkembang diperlukan sarana dan prasarana yang semuanya berada dalam lingkungan individu yang bersangkutan. Pembawaan dan lingkungan masing-masing individu tidaklah sama. Ada pembawaan yang tinggi, sedang, kurang, bahkan kurang sekali. Demikian juga lingkungan. Ada individu yang lingkungannya sangat baik, sedang,dan ada pula lingkungannya yang berkekurangan. Keadaan yang ideal adalah apabila seseorang memiliki pembawaan dan lingkungan yang bagus. Yang menjadi pokok konselor adalah memahami sebesar apa modal yang dimiliki oleh klien dan mengupayakan pengaturan lingkungan bagi pengembangan modal itu sambil meningkatkan motivasi klien untuk berbuat searah dengan penumbuh kembangan modalnya itu.

3).Perkembangan Individu
Perkembangan individu itu tidak sekali jadi, melainkan bertahap berkesinambungan.

4).Belajar, balikan, dan penguatan
Belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan apa yang sudh ada pada diri individu. Pengetahuan tentang hasil belajar (baik yang diketahui sendiri maupun yang berasal dari orang lain) merupakan balikan (feedback)bagi individu yang belajar, terutama tentang sampai berapa jauh kesuksesannya dalam upaya belajar itu.
Pemberian penguatan dilakukan memakai pernyataan berkenaan dengan hal-hal yang positif yang ada pada diri individu khususnya berkenaan dengan kegiatan belajar itu, misalnya pernyataan tentang motivasi belajarnya cukup tinggi, hasil pekerjaannya bagus, pekerjaannya rapi, dsb.

5).Kepribadian
Sering dikatakan bahwa ciri seseorang adalah kepribadiannya. Wiggins, Renner, Clore, & Rose (1976) mengupas tentang kepribadian dengan melihat hakikat tingkah laku dan perkembangannya secara menyeluruh. Konselor perlu memahami kompleksitas kepribadian klien disamping mampu memilah ciri-ciri tertentu yang dapat diukur. Tugas konselor juga mengoptimalkan perkembangan dan pendayagunaan predisposisi ataupun ciri kepribadian individu ke arah hal-hal positif sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan individu yang bersangkutan.

D.LATAR BELAKANG PEDAGOGIS
Pedagogie adalah ilmu yang mempelajari cara-cara mendidik dan mengajar yang baik dan benar. Landasan pedagogis mengemukakan bahwa antara pendidikan dan bimbingan memang dapat dibedakan , tetapi tidak dapat dipisahkan. Proses bimbingan dan konselingadalah proses pendidikan yang menekankan pada kegiatan belajar dan sifat normatif. Tujuan-tujuan bimbingan dan konseling memperkuat tujuan-tujuan pendidikan dan menunjang program-program pendidikan secara menyeluruh.

E.LATAR BELAKANG YURIDIS
Pelayanan BK di indonesia telah dirintis mulai tahun 1960, secara resmi BK tahun 1975 dimasukan kedalam kurikulum SD sampai dengan SMA.
Contoh peraturan perundangan yang mengandung ketentuan tentang bimbingan dan konseling:
a. UU no 2/1998 tentang sistem pendidikan nasional.
b. PP no 27/1990 tentang pendidikan prasekolah.
c. PP no 28/1990 tentang pendidikan dasar.
d. PP no 29/1990 tentang pendidikan menengah.
e. PP no 30/1990tentang pendidikan tinggi.
f. PP no 72/1991 tentang pendidikan luar biasa.
g. PP no 73/1991 tentang pendidikan luar sekolah.
h. PP no 38/1992 tentang tenaga kependidikan.
i. Keputusan MENPAN no 26/1989 tentang jabatan fungsional guru.

F.PERAN GURU SEBAGAI PEMBIMBING DALAM PBM
a. Meningkatkan motivasi belajar siswa.
b. Siswa memiliki pemahaman diri, sikap dan pembawaannya.
c.Memberikan fasilitas untuk mengembangkan kemampuannya.
d.Memberikan bimbingan karir
e.Melaksanakan diagnostik kesulitan belajar siswa.

G.TUGAS GURU DALAM BIMBINGAN OPERASIONAL LUAR KELAS
a.Memberikan remedial teaching.
b.Memberikan pengayaan dan pengembangan bakat mahasiswa.
c.Melakukan home visit.
d.Menyelenggarakan kelompok belajar yang bermanfaat.

H.KERJASAMA GURU DENGAN KONSELOR
a.Kerjasama dalam proses pembelajaran dalam memberikan bimbingan mahasiswa.
b.Layanan orientasi.
c.Layanan penempatan.
d.Layanan penyaluran.
e.Layanan konseling individu.
f.Layanan konseling kelompok.
g.Layanan informasi pembelajaran.
h.Melaksanakan konferensi kasus.
i.Menangani masalah yang bukan wewenang dosen.
j.Membantu untuk menghadirkan pakar-pakar pada bidang tertentu.
k.Memberikan layanan bimbingan dan konseling klasikal,kelompok,atau individu.

I.PERAN GURU DALAM PROES BELAJAR
a.Sumber belajar
b.Fasilitator
c.Manager
d.Demonstator
e.Komunikator
f.Motivator
g.Organisator
h.Evaluator